Lemahnya Pertumbuhan Industri Mebel Jawa Timur di Tahun 2019

(Dari kiri), Sofianto Widjaja, General Manager PT Wahana Kemalaniaga Makmur, penyelenggara pameran IFMAC 2019 bersama Abdul Sobur, Sekretaris Jenderal (Sekjen) HIMKI dan Ketua HIMKI Jatim, Nur Cahyudi serta Peter Joe, pengusaha mebel dan kerajinan asal Sidoarjo. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Di tahun 2019 ini, kinerja industri mebel jatim diprediksi hanya mampu tumbuh sekitar lima hingga enam persen, lantaran pergerakan pasar domestik maupun ekspor yang belum membaik serta tingkat daya saing investasi yang rendah.

Sekjen Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur menjelaskan awalnya pengusaha merencanakan industri bisa tumbuh 8%, tetapi kondisi yang belum membaik, diperkirakan paling sedikit hanya mampu 5% – 6%.

“Industri mebel cukup tertekan akibat banyak faktor, yah tapi setidaknya masih bisa tumbuh sedikit karena disokong oleh kinerja mebel di Jawa Tengah yang sedang dalam masa keemasannya,” ungkap Abdul, seusai seminar mebel di salah satu hotel di Surabaya, Senin (26/8/2019).

Abdul mengungkapkan, salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja industri ini adalah masalah upah minimum pekerja di Jateng yang tidak setinggi di Jatim sehingga industri di Jatim yang justru merosot. Ia berdalih, jika ingin industri ini tumbuh seperti di Vietnam yang mampu mencapai 38% dalam 3 tahun, maka pemerintah harus menarik investasi masuk dengan mudah. Tanpa ada relokasi industri, misalnya dari China ke sini, maka pertumbuhan industri cuma bisa naik sekitar 4% – 5%.

Menurutnya, seharusnya Indonesia punya potensi menjadi negara relokasi dari pabrik-pabrik asal China. Namun, pabrikan China lebih memilih relokasi ke Vietnam yang dinilai lebih ramah investasi serta lebih dekat secara geografis.

“Luas wilayah Indonesia lebih besar dari Vietnam, jumlah bahan baku kita juga merupakan ketiga terbesar di dunia setelah Brazil, juga SDM kita banyak. Untuk itu, kita harus punya regulasi yang lebih menarik dari Vietnam sebagai booster,” ujarnya.

HIMKI juga memberikan saran, agar pemerintah belajar ke Vietnam untuk mempelajari, bagaimana membuat regulasi yang ramah investasi sehingga pertumbuhan industri bisa lebih cepat dan signifikan. Ia menjelaskan hingga saat ini, masih ada ratusan regulasi yang harus dihadapi sebuah industri mebel di Indonesia.

Sebagai contoh, ada industri asing masuk dan mereka membawa tenaga kerjanya, itupun banyak izin yang menghambat dan dibatasi padahal itu juga untuk meningkatkan devisa kita.

“Pemerintah sendiri memberikan kemudahan impor untuk kemudahan ekspor, tapi baru sebatas raw material, sedangkan SDM juga perlu dipikirkan,” kata Abdul.

Sementara itu, Ketua HIMKI Jatim Nur Cahyudi menambahkan pada semester I/2019, realisasi ekspor mebel di Jatim hanya bisa mencapai US$122 juta, turun 6,5% jika dibandingkan periode sama tahun lalu yakni US$130 juta.

“Begitu juga secara nasional, nilai ekspor mebel tahun lalu hanya bisa mencapai US$1,7 miliar, turun dibandingkan tahun sebelumnya US$2 miliar,” ucapnya.

Nur menjelaskan, Semester II pergerakannya tidak begitu baik, karena di Jawa Timur juga masih menunggu kebijakan pemerintah baru, termasuk pemerintah daerah supaya daerah ini bisa jadi daya tarik investasi.

“Pemda harus membuat kebijakan yang mendukung investasi, termasuk pengusaha pun harus punya inovasi baru dalam membuat produk yang berkualitas, salah satunya dengan penggantian atau peremajaan mesin,” tutup Nur.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana