Pengamat Investasi Internasional Anggap Indonesia Masih Perlu Investasi Pendorong Ekspor

Iman Prihandono (dua dari kiri) ketika menghadiri FGD bertajuk Investasi Asing Pemerintahan Presiden Jokowi Jilid 2 yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Airlangga di Jakarta. FOTO : SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Investasi Asing Pemerintahan Presiden Jokowi Jilid 2, yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni FH UNAIR kemarin di Jakarta datang dengan pembahasan khusus investasi. Dalam diskusi tersebut, dibahas bahwa Bank Dunia memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi dunia, akan cenderung mengalami penurunan pada tahun 2019 ini dan kedepan.

Demikian juga United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), yang melaporkan adanya pelambatan pertumbuhan investasi global di tahun 2018. Menurut Iman Prihandono, pengamat investasi internasional UNAIR, dalam acara apabila kondisi perekonomian dunia turun maka ekspor Indonesia juga akan turun. Akibatnya korporasi mengurangi produksi dan akan berimbas tidak stabilitas perdagangan negara.

“Sehingga, terjadi pelambatan ekonomi Indonesia akibat pengurangan jumlah tenaga kerja, dan melemahnya daya beli masyarakat,” ungkap Iman, saat ditemui reporter Sureplus.id di Kampus UNAIR, Jumat (16/8/2019).

Iman mengungkapkan, kondisi tersebut juga berpengaruh pada pertumbuhan investasi asing yang juga menurun di tahun 2018. Ditambah lagi peringkat Ease of Doing Business atau kemudahan berusaha diIndonesia juga menurun dari 73 menjadi 72.

Padahal selain ekspor dan konsumsi domestik, investasi asing sangat memberi pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk meningkatkan ekspor saat ini kemungkinan masih akan sulit karena beberapa hal, misalnya perang dagang antara US dan Tiongkok berpengaruh terhadap menurunnya produksi global.

“Investasi diperlukan untuk menggerakkan ekonomi melalui produksi barang dan jasa. Bila investasi turun maka produksi barang dan jasa juga akan turun,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu cara untuk mencegah turunnya investasi dengan cara memberikan kemudahan investasi. Khususnya bagi perusahaan manufaktur yang mengekspor barang. Kemudahan itu dapat berbentuk tax holiday, seperti penurunan pajak ekspor.

Selain itu, seharusnya investasi asing lebih difokuskan pada industri yang dapat mendorong ekspor. Namun industri ini sebaiknya bukan lagi industri manufaktur dasar, tetapi industri berupa produk teknologi yang memiliki nilai tinggi.

“Sayangnya Indonesia belum siap untuk melakukan industri di bidang teknologi. Hampir 80% tenaga kerja Indonesia masih berpendidikan SD. Diperlukan skilled labor untuk dapat mendukung investasi di sektor manufaktur teknologi,” kata Iman.

Kendati demikian, pada periode ini investasi asing tertinggi masih ditempati oleh sektor tenaga listrik. Kondisi itu dipicu oleh program pemerintah dalam menyediakan 35.000 MW listrik. Yang menarik, sektor pertambangan selalu muncul sebagai sektor terfavorit investasi asing, bahkan menempati posisi pertama di tahun 2017.

“Melihat kecenderungan tersebut, nampaknya pemerintah kedepan masih akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur, termasuk penyediaan jaringan dan pembangkit listrik, serta energi terbarukan,” ucapnya.

Demikian juga, menurut Iman sepanjang industri manufaktur yang mendukung ekspor dengan nilai jual tinggi belum terbentuk, pemerintah akan masih mengandalkan investasi asing di sektor pertambangan. Ia menilai, pemerintah perlu lebih berhati-hati dan memperhatikan beberapa aspek penting, khususnya investasi di sektor pertambangan.

Mengingat, sektor tersebut paling rawan mengakibatkan kerusakan lingkungan dan pembukaan lahan di area hutan. Sehingga, pemerintah perlu mengantisipasi dan menimbang dampak yang ditimbulkan dengan hasil yang didapatkan.

“Indonesia tidak bisa selamanya bergantung pada investasi di bidang ekstraktif. Karena sumberdaya alam minyak, gas dan mineral lambat laun akan habis. Sektor Pertanian dan Perikanan belum mendapatkan perhatian serius, padahal potensinya sangat besar,” tutup Iman.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana