Pengmas UNAIR, Dosen dan Mahasiswa Bantu Perjuangan Status Tanah Dusun Sendi

Tim FH UNAIR bersama warga Dusun Sendi saat melangsungkan diskusi. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Salah satu kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas), yang dilaksanakan oleh para dosen dan mahasiswa Pusat Studi Hukum HAM (HRLS) Fakultas Hukum UNAIR, kali ini ikut terjun membantu memperjuangkan status tanah di Dusun Sendi, Mojokerto. Dengan tema “Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Sendi dan Hak-Hak Masyarakatnya”, rangkaian program pengmas ini fokus untuk membantu masyarakat dusun terkait permasalahan yang sudah lama dihadapi.

“Warga kampung adat Sendi memiliki sejarah panjang terkait status tanah. Sejak tahun 1931, ada konflik yang melibatkan warga dusun sendi dan Perhutani terkait hal tersebut,” ungkap Fairuz Zahirah Zihni Hamdan, salah satu mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan Pengmas saat diwawancarai reporter Sureplus.id di Kampus UNAIR, Rabu (14/8/2019).

Fairuz mengungkapkan, permasalahan yang belum rampung ini sempat membuat HRLS FH UNAIR membantu membuat pendapat hukum (LO) pada tahun 2007. Hal tersebut dilaksanakan untuk membela warga yang ditangkap dan dikriminalisasi.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, konflik pun berhasil diredam antara kedua belah pihak. LO tersebut, akhirnya digunakan acuan pemerintah maupun DPRD Kabupaten Mojokerto untuk menjadi dasar melindungi warga kampung.

“Akhirnya, sejak saat itu hingga sekarang tim dari FH UNAIR fokus dalam membantu masyarakat dalam hal reclaiming, yaitu memperjuangkan status tanah kembali untuk masyarakat Dusun Sendi,” ujarnya.

Menurutnya, HRLS FH UNAIR merasa hak-hak masyarakat hukum adat sendi adalah sesuatu yang harus diakui oleh negara. Karena itu, pihak FH UNAIR memilih untuk mendampingi dan turut berjuang bersama masyarakat untuk mendapatkan status subyek hukum dan hak yang lebih jelas. Warga kampung adat maupun pihak desa diwakili perangkat desa menyambut baik tentunya atas bantuan tersebut.

“Disana kami mengadakan diskusi bersama tetua adat, sekretariat adat dan perwakilan kasepuhan masyarakat hukum adat Sendi. Kami membicarakan bagaimana kondisi kampung Sendi terkait kondisi geografis, sosial budaya serta akses kelola hutan di kampung,” kata Fairuz.

Ia juga menceritakan, tetua dan sekretaris adat berharap wakil FH UNAIR bersedia terus mendampingi dan menemani dalam memperjuangkan hak-hak warga kampung adat yang sudah sekitar 20 tahun.

Kendati demikian, dalam diskusi bersama tersebut HLRS FH UNAIR dan perangkat Dusun Sendi juga membicarakan mengenai nasib kampung adat Sendi di masa depan. Persyaratan apa saja yang harus dipenuhi dan apa saja tantangan yang harus dihadapi.

“Disini peran kami adalah mendampingi warga dan menjelaskan undang-undang yang berlaku terkait perjuangan masyarakat untuk mendapatkan haknya. Kami membantu masyarakat agar lebih memahami serta mendayagunakan hukum,” tutup Fairuz.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maukana