Khofifah: Kemiskinan di Jawa Timur Turun dalam 5 Tahun Terakhir

Kehadiran Gubernur Khofifah di hotel Mercure diawali dengan pemberian santunan pada kaum dhuafa. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengklaim angka kemiskinan di Jawa Timur berhasil turun. Hal tersebut, ia sampaikan pada acara Pembukaan Bimbingan dan Pemantapan Pendamping dan Operator Program Keluarga Harapan (PKH) Plus Jaminan Sosial Lanjut Usia Tahun 2019 di Hotel Mercure, Surabaya.

Dalam pernyataannya tersebut, berdasarkan rilis pada 15 Juli 2019, data BPS Jawa Timur menyatakan bahwa angka kemiskinan Jawa Timur turun signifikan sebesar 0,48 persen. Per Maret 2019, dari data BPS, jumlah penduduk miskin di Jawa Timur mencapai 4.112,25 ribu jiwa. Atau sebanyak 10,37 persen dari total jumlah penduduk di Jawa Timur.

“Ternyata penurunan kemiskinan enam bulan terakhir ini sangat signifikan yaitu sebesar 0,48 persen dan ini adalah angka penurunan kemiskinan yang tertinggi selama 5 tahun terkhir,” ungkap Gubernur Jatim  Khofifah Indar Parawansa, saat menyampaikan sambutan di acara Pembukaan Bimbingan dan Pemantapan Pendamping dan Operator Program Keluarga Harapan (PKH) Plus Jaminan Sosial Lanjut Usia Tahun 2019 di Hotel Mercure, Jumat (19/7/2019).

Khofifah mengungkapkan, jumlah penduduk miskin Jatim tersebut menurun dibandingkan survei BPS terakhir pada September 2018 lalu. Dimana warga miskin Jatim mencapai 4.292,15 ribu jiwa atau jika dipersentase sebanyak 10,85 persen. Artinya dalam waktu enam bulan saja, ada sebanyak 179,9 ribu jiwa atau sebesar 0,48 persen warga Jawa Timur yang terentaskan dari kemiskinan.

Masih dari data BPS yang sama, disebutkan, selama enam bulan terakhir angka kemiskinan Jatim di perkotaan dan perdesaan juga mengalami tren penurunan  yang cukup signifikan. Kemiskinan perkotaan turun sebanyak 8,8 ribu jiwa. Survei BPS pada September tahun lalu menyatakan jumlah penduduk miskin perkotaan Jatim mencapai 1.458,09 ribu jiwa. Pada Maret tahun ini, angka itu turun menjadi 1.449,27 ribu jiwa.

Sedangkan untuk kemiskinan pedesaan, jumlah penduduk miskin turun signifikan sebesar 171,11 ribu jiwa per Maret 2019. Padahal enam bulan sebelumnya warga miskin pedesaan Jatim terdata mencapai 2.834,05 ribu jiwa, kemudian terdata menurun menjadi 2.662,98 ribu jiwa per Maret 2019.

“Persentase penduduk miskin di perkotaan Jatim pada September 2018 di angka 6,97 persen, kemudian turun menjadi 6,84 persen pada Maret 2019. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan juga turun dari 15,21 persen pada September 2018 menjadi 14,43 persen pada Maret 2019,” ujarnya.

Dikatakan Khofifah, data 4.112,25 ribu jiwa penduduk miskin di Jatim per Maret 2019 terbanyak di 10 kabupaten kota, tersebar di Kabupaten Malang, Kabupaten Jember, Kabupate Sumenep, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Sampang, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Tuban, Kabupaten Kediri, Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Bojonegoro.

“Salah satu yang menjadi fokus PKH plus adalah sepuluh kabupaten yang secara kuantitatif masuk pada daerah yang kemiskinannya terbesar,” kata Khofifah.

Untuk mengatasi hal itu, Khofifah akan melakukan berbagai usaha yang diharapkan mampu menurunkan angka kemiskinan di Jawa Timur lebih signifikan lagi. Usaha tersebut dengan melakukan konfirmasi semua elemen agar bisa memberikan  pendampingan efektif berbasis desa di 10 kabupaten dengan kategori penduduk miskinnya terbanyak. Disamping itu secara simultan dilakukan upaya pemberdayaan ekonomi.

Selain itu, Gubernur yang juga mantan Menteri Sosial ini mendorong  perusahaan-perusahaan di Jatim agar bermitra atau mempunyai desa-desa binaan yang masuk dalam 10 Kabupaten dengan tingkat sosial ekonomi rendah.

“Kami  bertemu dengan  pelaku usaha di Jawa Timur, kami minta mereka punya desa-desa binaan bermitra dengan berbagai perguruan tinggi melalui kuliah kerja nyata (KKN)  dengan titik-titik yang sudah kami petakan,” tutup Khofifah.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana