FKG UNAIR Selenggarakan Summer Course Untuk Pertama Kali Dalam Pendidikan Dokter Gigi

Petra Norbertine Broshuis dan Agnes Teresia Anna Maria Bremers (tengah), dua mahasiswi asal Radboud University, Belanda, yang berkesempatan menjadi lulusan pertama pendidikan Short Term-Summer Course yang diadakan FKG UNAIR di medio tahun 2019. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga kali ini mengembangkan capaian inovatifnya pada. Closing Ceremony diselenggarakan atas terselesaikannya pendidikan Short Term-Summer Course yang diikuti oleh dua peserta didik asal Radboud University Nijmegen, Belanda. Kedua peserta didik ini, yaitu Petra Norbertine Broshuis dan Agnes Teresia Anna Maria Bremers, dua mahasiswi asal Radboud University, Belanda.

“We are so glad to have an opportunity to follow this subject together with the local, because in our place, this subject of Health Denstistry doesn’t exist yet, (Kami sangat senang bisa berkesempatan mengikuti proses belajar bersama masyarakat di sini, karena di tempat asal kami bidang Public Health Dentistry belum ada),” ungkap Agnes di sesi kesan-pesan di Ruang Sidang Dekan FKG UNAIR, Selasa (18/6/2019).

Pada kesempatan pertama pendidikan Short Term-Summer Course ini, Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat (IKGM) menjadi starter dalam merilis skema pendidikan lintas negara ini. Pendidikan Short Term-Summer Course bertajuk Dynamic Integrated Education in Oral Health Community  Empowerment Program dilalui oleh Agnes dan Petra dengan baik dan berhasil mencapai nilai yang membanggakan.

Dr Taufan Bramantoro selaku Kepala Departemen IKGM FKG UNAIR mengungkapkan, baik Agnes maupun Petra, keduanya berhasil membuktikan dirinya bahwa sebagai mahasiswa internasional, bisa turut berperan aktif dan cepat dalam proses belajar di masyarakat lokal Indonesia, khususnya Surabaya.

“Terbukti, capaian nilai-nilai indikatornya baik. Bahkan mereka berhasil mengajarkan beberapa bahasa Belanda di komunitas ibu-ibu di Keputih,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Darmawan Setijanto, drg., M.Kes selaku Dekan FKG UNAIR menuturkan awal mula inisiasi program summer course ini.

“Kami memiliki penawaran pendidikan kedokteran gigi yang inovatif dan menarik di FKG UNAIR. Semua tertuang pada Preceptorship FKG UNAIR yang selalu kami sosialisasikan kepada khalayak dunia di setiap event mancanegara yang kami ikuti,” ucap Darmawan.

Preceptorship FKG UNAIR tersebut menawarkan detail program dan kompetensi yang akan dilalui serta dicapai oleh calon peserta didik internasional pada program Dynamic Integrated Education in Oral Health Community  Empowerment Program. Sejauh ini, telah ratusan eksemplar preceptorship FKG UNAIR tersebar di banyak universitas mancanegara.

Ditemui di tempat terpisah, Gilang R. Sabdho Wening sebagai PJMK Pendidikan Profesi Departemen IKGM FKG UNAIR menyatakan, program internasional Departemen IKGM ini sejatinya adalah bentuk adaptasi kegiatan PKL mahasiswa koas menjadi versi global dental health empowerment program.

“Pada akhirnya mahasiswa internasional juga akan dinilai kemampuan analisis kesehatan gigi dan mulut komunitasnya, bagaimana melakukan diseminasi dalam kelas, serta mengusulkan program apa yang sekiranya tepat guna untuk menaikkan status kesehatan gigi komunitas,” kata Gilang.

Gilang berdalih, bahwa Indikator capaian pembelajaran tersebut disarikan dan adaptasikan dari kerangka capaian kompetensi global-internasional yang terkini di dunia. Selain mendapatkan pendidikan program tersebut, Petra dan Agnes juga melakukan eksplorasi budaya dan sosial warga Kota Surabaya dengan mengunjungi beberapa Posyandu, tempat bersejarah, dan juga mencoba berinteraksi dengan warga lokal tepian Kota Surabaya.

Sebagai bentuk khas dari acara penutupan di Indonesia, jajaran dekanat FKG UNAIR beserta para dosen dan mahasiswa menutup rangkaian pendidikan Short Term-Summer Course bertajuk Dynamic Integrated Education in Oral Health Community  Empowerment Program dengan acara potong tumpeng dan penyerahan sertifikat kelulusan beserta sertifikat hasil studi kepada Agnes dan Petra.

“We actually surprised enough to see a fact that a local mother have so many knowledge about the healthy of mouth and tooth. But the tooth’s healthy for their kids were so bad. After we do some research, their kids only brush their teeth once a day. (Kami cukup kaget melihat fakta bahwa pemahaman banyak Ibu-ibu lokal tentang kesehatan gigi mulut sebenarnya baik. Tapi gigi anak-anaknya sangat memprihatinkan. Ternyata setelah kami telusuri, menyikat giginya hanya satu kali sehari),” kisah Petra dalam sesi diseminasi dalam kelas bersama para dosen dan mahasiswa.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana