Inovasi Karya Alumnus UKWMS Maksimalkan Pemanfaatan Ikan Tongkol di Masyarakat

Theresia Irene, Yashinta Wisnata dan Sheila Chang menunjukkan produk Fishkol inovasi mereka

SURABAYA-SUREPLUS: Melihat potensi pemanfaatan ikan tongkol dan gerakan konsumsi ikan yang terus digalakkan, dan untuk mengikuti Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM), tiga alumnus Program Studi Teknologi Pangan dan Gizi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FTP UKWMS) memberikan inovasi dengan bahan utama ikan tongkol. Ketiga alumnus tersebut adalah Sheila Chang, Yashinta Wisnata, dan Theresia Irene.

“Kalau dilihat dari ikannya, bagian yang bisa dimanfaatkan itu banyak, tidak ada sisik sehingga bagian yang terbuang sedikit dan ikan tongkol punya cita rasa serta aroma yang lebih kuat dibanding ikan lainnya,” ungkap Sheilla, salah satu dari ketiga alumnus saat diwawancarai reporter Sureplus.id di lokasi, Kamis (30/5/2015).

Sheilla mengungkapkan, kenapa ikan tongkol, karena ikan tersebut merupakan kerap diolah untuk menjadi lauk pauk, dan menjadi kegemaran masyarakat. Selain mudah didapat baik di pasar atau langsung dari nelayan, ikan tongkol kaya akan protein, asam lemak omega-3, fosfor, kalium, zat besi dan kandungan gizi baik lainnya yang bermanfaat untuk tubuh.

Cara pengolahannya pun beragam, mulai digoreng, dikukus menjadi pepes ataupun ditumis. Namun, pasti masih ada bagian yang tidak bisa dikonsumsi secara langsung seperti tulang ikan. Mencari formulasi yang tepat tentu tidak mudah, ketiganya membutuhkan waktu enam bulan untuk uji coba dibawah bimbingan Ir. Adrianus Rulianto Utomo.

“Paling lama diproses orientasi awal, menentukkan proses yang tepat dan efisien mengingat ada dua tahap besar yang harus dilakukan,” ujarnya.

Hasil inovasinya mereka namai Fishkol, yakni tablet tepung ikan tongkol.  Salah satu partner Sheilla, Irenen menjelaskan fungsi untuk bumbu masakan atau bahan tambahan pangan sebagai kaldu penyedap rasa. Untuk proses pembuatannya,  terbagi dalam dua tahap besar yaitu penepungan ikan tongkol dan pembuatan tepung ikan tablet.

Untuk sekali produksi mereka menggunakan enam kilo gram ikan tongkol segar, yang kemudian dipisahkan dari organ dalam dan mata, dicuci bersih, direbus dalam panci presto, disuwir, dikeringkan, lalu dihancurkan dan diayak hingga dihasilkan tepung ikan tongkol. Agar rasa yang dihasilkan mudah diterima masyarakat, mereka menambahkan gula, garam dan merica, serta ditambahkan pula maltodekstrin sebagai pengikat komponen bahan. Proses pengeringan ini pula turut menambah umur simpan ikan tongkol.

“Pada tahap ini dimulai proses granulasi, dengan menambahkan air sampai homogen. Setelah itu kembali diayak, dikeringkan di oven dan diayak kembali, ditambahkan pelicin yakni magnesium stearat dan dicetak dengan mesin pencetak tablet,” jelas Yashinta yang juga salah satu dari ketiga pencetus fishkol.

Untuk menghasilkan bentuk tablet, ketiganya berkolaborasi dengan Laboratorium Formulasi dan Teknologi Sediaan Solida Fakultas Farmasi UKWMS. Tablet merupakan sediaan padat yang dibuat secara kempa-cetak berbentuk rata atau cembung. Dari hasil mencetak, masing-masing tablet akan memiliki berat 300 mg sehingga memudahkan untuk dibawa maupun disimpan, karena dengan bentuk yang padat maka kontak dengan udara juga minim.

Penggunaanya pun mudah, untuk membuat sup dengan air 500 ml dibutuhkan 12 tablet Fishkol. Jika untuk menumis, pencampuran tablet Fishkol bisa sesuai selera apakah ingin cita rasa ikan yang kuat atau tidak.

“Fishkol ini bisa dikonsumsi untuk anak-anak sampai orang tua, karena kandungan gizinya baik untuk tubuh dan tidak menggunakan bahan pengawet apapun sehingga aman,” tutup Irene.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana