Risma Resmikan 70 Taman Baru dalam Rangkaian HJKS-726

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini saat meresmikan 70 taman di seluruh kota Surabaya dalam rangka HJKS-726. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah meresmikan 70 taman baru yang tersebar di Kota Pahlawan. Rinciannya, Surabaya pusat sebanyak empat, utara sepuluh, selatan sebanyak enam belas, timur dua puluh enam dan barat sejumlah empat belas taman. Secara simbolis, peresmian 70 taman itu dilakukan oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bertempat di Taman Harmoni Keputih Surabaya.

Salah satu taman yang baru saja diresmikan itu adalah Taman Ex Incinerator yang merupakan bagian dari Taman Harmoni Keputih. Taman baru itu memiliki luas mencapai 2,8 hektar dengan luasan lahan yang sudah dibangun tahun 2019 mencapai 1,2 hektar.

“Taman Ex Incinerator, yang menjadi bagian dari Taman Harmoni ini termasuk dalam rangka pemerataan pembangunan di Kota Surabaya. Selain itu, tujuan kita untuk menyuburkan kembali tanah yang sebelumnya merupakan eks Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, setelah 11 tahun ditutup. Momen ini kita gunakan untuk menandai, kami mencoba membangun secara merata,” ungkap Risma dalam sambutannya di Taman Ex-incenerator, Kamis (17/5/2019).

Risma mengungkapkan, sebelumnya Taman Ex-Incineratorini merupakan bekas tempat pengolahan sampah, yang kemudian disulap menjadi sebuah konsep taman yang menarik. Bahkan, di taman ini terdapat sarana ruang publik kreatif, seperti teater terbuka berbentuk lingkaran dan ruang khusus pameran hasil karya warga Surabaya. Apalagi taman ini memang dikhususkan untuk ruang publik kreatif.

Selain sebagai ruang publik kreatif, Taman Ex Incinerator juga merupakan taman lingkungan. Karena itu, Risma berharap melalui taman tersebut ke depan dapat menjadi wadah untuk mencari solusi berbagai permasalahan Kota Surabaya.

“Bapak ibu sekalian, membangun tidak mudah, karena harus diuruk. Tapi saya yakin suatu saat taman ini akan menjadi icon Kota Surabaya yang bahkan terkenal di luar negeri,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan Taman Ex-Incinerator menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Surabaya, Corporate Social Responsibility (CSR), serta bantuan dari United Cities Local Government (UCLG). Menurutnya, semua taman yang ada di Kota Surabaya memiliki konsep desain yang berbeda-beda.

“Setiap taman yang saya bikin selalu punya konsep yang berbeda, lagi pula kalau didesain sama, masyarakat akan bosan datang ke taman karena semua sama,” imbuhnya.

Risma berdalih, sebanyak 400 lebih taman yang tersebar di Kota Surabaya bertujuan untuk penghijaun kota. Sekitar 30 persen Kota Surabaya dipenuhi oleh taman yang bermanfaat untuk menurunkan suhu udara. Hasilnya, saat ini suhu udara di Kota Surabaya telah turun sekitar dua derajat celcius.

“Suhu udara di Kota Surabaya mencapai 20-22 derajat celcius. Dulu Surabaya rata-rata 34 sampai 36 derajat celcius. Sekarang sudah 34 derajat ke bawah dan itu ada datanya, bahkan kalau pagi Kota Surabaya berkabut,” jelasnya.

Pada kesempatan ini, wali kota perempuan pertama di Surabaya itu juga mengungkapkan bagaimana pihaknya dapat mengelola tanah bekas TPA itu menjadi Taman Harmoni yang enak dipandang dan dikunjungi. Pertama, sebelum lahan tersebut dibangun taman, ia harus memastikan bahwa gas metan yang ada di lokasi tersebut tidak lagi keluar.

“Jadi saya minta bantuan dari ITS untuk meyakinkan apakah sudah tidak ada gas metannya, karena gas metan itu yang dapat merusak lapisan ozon,” ujar wali kota kelahiran Kediri ini.

Kedua, ia menjelaskan, agar gas metannya tidak keluar maka dilakukan pengurukan, menggunakan tanah galian dari sungai setinggi satu meter. Dengan begitu, akar tanaman akan tumbuh subur dan lebih kuat. Terlebih, jika akar tanaman sudah masuk ke dalam bekas sampah yang diuruk.

“Setelah sampe satu meter itu akarnya bisa tumbuh, itu artinya tumbuhan itu sudah bisa hidup. Nah, nanti kalau tumbuhannya sudah bisa masuk ke dalam sampah, dia sudah kuat posisinya.  Jadi kayak gitu teori singkatnya memang agak berat,” tutup Risma.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana