Emil Bagikan Kiat Kesuksesan Strategi dalam Eliminasi Malaria di Jatim

Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestiano Dardak saat hadir dalam peringatan hari malaria sedunia di Bali. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak membagikan strategi sukses guna mewujudkan eliminasi penyakit malaria di Jatim. Sejak 2017, seluruh kabupaten/kota di Jatim telah dinyatakan 100 % bebas dari penyakit yang disebabkan plasmodium, dan ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles ini.

Strategi itu dipaparkan Wagub Emil, usai menerima Sertifikat Eliminasi Malaria yang diserahkan langsung oleh Menkes RI, Nila F. Moeloek dalam Peringatan Hari Malaria se-dunia Tahun 2019 dengan tema “Bebas Malaria Prestasi Bangsa”, Zero Malaria Starts With Me, di Desa Budaya Kertalangu, Denpasar, Bali.

Wagub Emil mengatakan, untuk mewujudkan eliminasi penyakit malaria membutuhkan kerja keras, dan kerjasama seluruh pihak. Hal ini telah dialaminya saat masih menjabat sebagai Bupati Trenggalek pada Februari 2016-Februari 2019, Emil lantas menceritakan pengalamannya tersebut.

“Kami bersinergi dengan TP PKK, untuk menginisiasi juru malaria desa (JMD), dimana satu Desa ada satu JMD,” ungkap Emil, saat memberikan pemaparan pada Peringatan Hari Malaria se-dunia, Selasa (14/5/2019).

Emil mengungkapkan, strategi lainnya adalah menerapkan metode penemuan dan tata laksana Penyakit Malaria, dengan jalan penemuan kasus secara dini baik secara pasif maupun aktif dan pengobatan di layanan kesehatan.

Selanjutnya, melaksanakan diagnosa malaria dengan konfirmasi mikroskopis dan uji reaksi cepat (RDT Malaria). Lalu, pengobatan dengan ACT (Artemisini Based Combination Therapy), tata laksana kasus yang dilaksanakan oleh fasilitas layanan kesehatan secara terintegrasi, penguatan akses dan ketersediaan layanan di fasilitas kesehatan baik di Puskesmas maupun RSUD.

“Sedangkan upaya pencegahan yang dilakukan, dengan melakukan pengendalian vektor atau penular penyakit, dalam hal ini nyamuk anopheles dikendalikan secara terpadu, dengan melakukan kombinasi intervensi yang meliputi pemberian kelambu insectisida pada daerah endemis, pemeliharaan ikan pada tempat perindukan dan larvasidasi dengan larvasida,” lanjutnya.

Upaya preventif lainnya, juga melakukan pendekatan, kemitraan dengan melibatkan masyarakat, swasta, lintas program, maupun lintas sektor terkait.

“Pendekatan juga termasuk kepada pengusaha tambang pasir, yang diminta untuk meratakan kembali tanah bekas galian, atau reklamasi, sehingga tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” tutup Emil.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana