Kuliah Umum Soekarwo yang Telah Resmi Jadi Tim Dosen Unair

Gubernur Jawa Timur tahun 2009-2019 Dr. H. Soekarwo saat memberi kuliah tamu di FEB Unair. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS:  Mantan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo resmi menjadi bagian dari tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair). Mata kuliah yang dia ajarkan, yakni teori ekonomi makro pada Program Studi Magister Ilmu Ekonomi. Ia menjadi pembicara dalam kuliah umum, yang mengangkat topik ‘Kebijakan Stabilisasi Ekonomi: Strategi Menjaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Dunia’.

Pak De Karwo, sapaan akrabnya ini memberikan contoh pada sektor pertanian. Sebagai tulang punggung perekonomian Jawa Timur, perlu adanya perhatian lebih dibidang ini. Sebab, kontribusinya sangatlah besar dan menyerap tenaga kerja di pedesaan yang notabene merupakan kantong-kantong kemiskinan.

“Demi menciptakan nilai tambah di bidang pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani, kita menggunakan konsep agro-maritim hulu hilir. Jadi petani bukan hanya sebagai penggarap, tetapi juga terlibat aktif dalam produksi,” ungkap Soekarwo saat memberikan pemaparan pada kuliah umum di Aula Tirtodiningrat Notonagoro FEB Unair, Senin (6/5/2019).

Pak De Karwo mengungkapkan, dengan langkah ini ia berharap agar petani dapat lebih mengetahui seputar teknik marketing, menjual produk dengan baik dan memiliki nilai tambah tersendiri yang cukup tinggi. Langkah ini pula merupakan upaya membantu petani dalam menciptakan nilai tambah yang berdampak bgi pendapatan.

Menurutnya, petani biasanya fokus untuk menghasilkan banyak produk untuk dijualkan. Pada penjualan itu sendiri, petani harus memiliki ‘intelegent marketing’. Tuntutan pasar seperti apa, harus dikemas dengan rupa yang bagaimana, para petani tidak boleh lemah dalam hal itu.

Senada dengan Soekarwo, Wisnu Wibowo selaku KPS Prodi Magister Ilmu Ekonomi menambahkan bahwa pola yang seperti itu harus diubah. Petani harus mulai mengerti tentang penjualan dan standarisasi produk agar hasilnya dapat dipasarkan dimanapun.

“Bertani bukanlah sekedar bisnis seperti biasa. Harus lebih cerdas dari para pelakunya dengan mengembangkan konsep industri tersier dan sekunder. Bukan hanya dijual mentah,” ujar Wisnu.

Wisnu menjelaskan, untuk itu perlu ada penyuluhan secara berjenjang dari institusi pemerintah beserta lembaga-lembaga terkait hingga elemen-elemen terkecil seperti Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) dan kelompok petani. Tujuannya untuk menumbuhkan spirit petani itu sendiri.

Soal Suntikan dana dari pemerintah, Wisnu dan Pak De Karwo sepakat soal penerapan seputar JATIMNOMICs. Dalam konsep agro-maritim hulu hilir, pemerintah juga melibatkan perbankan yang memiliki misi terhadap ekonomi pedesaan seperti Bank Jawa Timur (Jatim), Bank UMKM serta Jamkrida untuk memberikan jaminan kredit pada petani.

“Hambatan pada petani tentu saja pada modal. Tapi kita mencoba mengubah mindset pada petani ahwa modal masih bisa diupayakan,” tutup Wisnu.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana