Emil Dardak: TPID Harus Ambil Langkah Konkrit Hadapi Kenaikan Harga yang Signifikan

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak saat menghadiri High Level Meeting di hotel JW Marriot Surabaya bersama TPID Jawa Timur, Difi Johansyah. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak memberikan pernyataan tegas untuk Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jawa Timur, harus mengambil langkah konkrit terhadap sejumlah komoditas yang menunjukkan kenaikan harga yang signifikan antara lain yakni bawang putih, bawang merah dan cabai merah.

“Kita perlu pastikan, bahwa Operasi Pasar yang telah kita laksanakan selama ini efektif untuk menurunkan harga komoditas tersebut. Jangan sampai komoditas yang kita salurkan malah dimanfaatkan oleh tengkulak,” ujar Emil saat menghadiri rapat koordinasi High Level Meeting (HLM) TPID Jawa Timur di Hotel JW Marriot, Jumat (3/5/2019).

Dengan mengangkat tema ‘Ketersediaan, Keterjangkauan Harga Barang Pokok Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (Puasa dan Idul Fitri Tahun 2019), hadir juga Difi A Johansyah, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur.  Emil mengungkapkan, Dinas Perhubungan dan pemerintah kabupaten harus dapat mencari solusi supaya komoditas tidak mengalami kelangkaan.

Menurut Emil, selama Ramadhan mereka memiliki harga psikologis yang dapat menjadi patokan kewajaran dari pergerakan harga komoditas. Harga psikologis inilah yang perlu dikaji bersama, apakah cukup wajar sehingga tidak menimbulkan inflas yang berlebihan.

“Menjelang Ramadahan ini, selain komoditas telur ayam ras, daging ayam, bawang putih dan bawang merah, ada juga faktor lain yang harus diperhatikan seperti tekanan inflasi pada kelompok administered Price, seperti tarif angkutan,” ujarnya.

Senada dengan Emil, Difi A Johansyah menuturkan, yang sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya bila dilihat bersama dalam dua tahun terakhir, tekanan inflasi pada periode HBKN lebih dominan disebabkan oleh tekanan harga pada kelompok administered price.

“Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya untuk meminimalisir dampak kenaikan tarif angkutan baik darat, laut maupun udara terhadap tekanan inflasi Jawa Timur pada periode HKBN,” kata Difi.

Difi menjelaskan, salah satu permasalahan yang dihadapi Jawa Timur adalah disparitas harga antar Kabupaten/Kota, yang masih relatif tinggi terindikasi dari perbedaan harga komoditas pada sejumlah kabupaten/kota yang berada pada satu kawasan.

“Kita memerlukan Grand Design program pengembangan berbasis kawasan, yang difokuskan pada komoditas pangan unggulan di masing-masing daerah secara Jatim-wide. Selain itu, penguatan data untuk mengetahui efektivitas program, ketersediaan stok, disparitas harga serta pembentukan atau optimalisasi Pusat Distribusi Provinsi/Regional juga diperlukan,” ucap Difi.

Difi menambahkan TPID Jatim kini telah memiliki terobosan baru melalui kerjasama E-Warung dengan marketplace Bukalapak untuk penjualan sejumlah komoditas. Ia berdalih dengan program seperti ini, tentu barang akan lebih efektif sampai ke masyarakat dan mampu memotong jalur distribusi.

“Sama seperti tahun lalu pada Ramadhan kali ini, kami selaku TPID Jawa Timur menjamin ketersediaan stok komoditas pangan strategis, seperti beras yang dapat mencukupi kebutuhan masyarakat Jawa Timur hingga akhir tahun, gula pasir, tepung terigu dan komoditas lainnya,” tutup Difi.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana