UKWMS Gandeng OVO dan ITC Majukan Industri Teknologi Di Tahun ke 50

Benedicta (tengah) berfoto bersama usai penyerahan penghargaan bagi para dosen AkSe purna bakti. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Dalam perayaan Dies Natalies ke 50, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) kali ini mengadakan kerjasama dengan PT Visionet Internasional (OVO), dan PT International Test Center (ITC) berupa penandatanganan MoU .  Apalagi menghadapi revolusi industri 4.0 yang menuntut institusi ini membekali para lulusan dengan kemampuan menggunakan piranti digital, agar dapat berkomunikasi dan bekerja secara efisien dan efektif dalam mengelola kegiatan kantor.

“Di sisi lain, kemampuan menggunakan piranti digital harus dibarengi dengan pengembangan literasi humanis, agar kebebasan berekspresi dan mengakses informasi dilakukan dengan penuh kesantunan, saling menghargai dan menghormati,” ungkap Direktur Akademik Sekretariat (Akse), Benedicta D. Muljani saat menyampaikan Laporan Tahunan Direktur Akse WMS, Jumat (3/5/2019).

Benedicta mengungkapkan, Dies Natalis Akse WMS ke-50 ini terasa spesial, karena tidak hanya penandatanganan MoU, melainkan ada juga peluncuran Buku Sejarah ‘The Golden Journey of Secretarial Program, Widya Mandala Surabaya’, serta pemberian penghargaan kepada para dosen yang memasuki masa purna bakti dan mahasiswa berprestasi akademik terbaik.

Memasuki usia emasnya yang ke-50 tahun di era revolusi industri 4.0, AkSe WMS yang berdiri sejak tahun 1969 tentu akan menghadapi berbagai tantangan, mengingat dunia yang semakin dinamis, perkembangan teknologi yang semakin pesat, manusia yang semakin terkoneksi.

“Maka AkSe WMS bekerja sama dengan OVO untuk penempatan magang dan ekosistem non tunai (cashless society), sedangkan dengan ITC untuk penerapan sertifikasi komputer internasional Certiport serta mendukung program sertifikasi literasi digital bagi para mahasiswa,” ujarnya.

Melengkapi pengetahuan terkait dunia digital, hadir Budi Harto Saragih selaku Head OVO Small Medium Enterprises yang menyampaikan materi dengan tema Revolusi Industri 4.0 dan Dampaknya pada Pembayaran Digital.

“Bicara era 4.0 ada hubungannya dengan internet, maka pemerintah pun mulai membenahi dengan menggunakan fiber optic,” ucap Budi.

Ia menjelaskan, teknologi saat ini lebih cepat dari peraturan. Banyak orang yang sudah meributkan, namun peraturannya belum ada. “Selain itu, bank harus berbenah, pedagang juga harus berubah karena kalau tidak ada perubahan kita hanya jadi pemakai saja,” tutup Budi.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana