Lilik Kurniawan, Wisudawan Terbaik Kampus UKWMS Dari Kalangan Bawah

Lilik Kurniawan, salah satu mahasiswa yang menjadi wisudawan terbaik kampus UKWMS dari fakultas fisika. Ia juga merupakan asisten pengajar di SMAK Gloria 2 Surabaya sekaligus pengelola laboratorium. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Di acara konferensi pers yang digelar Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), hadir beberapa mahasiswa yang menjadi wisudawan terbaik dari berbagai fakultas. Salah satunya adalah Lilik Kurniawan (23), mahasiswa Fakultas Fisika yang berlatar belakang sebagai guru di SMAK Gloria 2 Surabaya.

“Yah kalau bukan karena Tuhan, saya tidak bisa menjadi sarjana. Awalnya untuk kuliah pun saya tidak terpikir, bahkan jadi pengajar fisika saya tidak terpikirkan,” ungkap Lilik saat diwawancarai reporter Sureplus.id di ruang rektorat, Jumat (26/4/2019).

Lilik mengungkapkan, dalam perjalanan studinya di kampus tersebut ia mendapatkan beasiswa dari SMA. Pemuda yang tinggal di Kedung Cowek ini menceritakan, selama berkuliah ia juga menyelingi dengan menjadi asisten pengajar di SMA dan menjadi pengelola laboratorium. Lilik sendiri mengakui bahwa dirinya berasal dari keluarga tidak mampu, dimana ia tinggal berdua hanya dengan ibu kandungnya.

Selama menggeluti studi, ia kerap kali mendapatkan berbagai permasalahan dan problematika. Namun, tak semerta-merta ia menyerah, lantaran karena karunia Tuhan ia bisa mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan studi di kampus UKWMS Kalijudan dalam kurun waktu tiga setengah tahun.

“Kenapa selesai tiga setengah tahun, karena saya ingin cepat bekerja, membahagiakan mama dan menjadi yang terbaik dalam segala hal yang saya jalani,” ujarnya pemuda asli Magelang ini.

Semenjak ibunya meninggal seminggu yang lalu karena penyakit ginjal, ia berdalih baru bisa hadir di acara ini dan berkomunikasi dengan lancar, setelah sebelumnya berduka. Padahal, sebelumnya ia berusaha membahagiakan ibunya dengan prestasi yang ia capai hingga sekarang. Namun impian tersebut harus kandas ketika ibunya menghembuskan nafas terakhir saat berada di rumah sakit.

“Kalau orang bilang, fisika itu pasti susah karena banyak banyak rumus dan lain sebagainya. Tapi mereka mungkin belum tahu ternyata di balik rumus yang rumit itu ada Tuhan di dalamya. Saya ingat kata dosen saya, fisika itu pecinta alam, jadi mempelajari karya Tuhan terhadap alam semesta ini. Kalau kita mau belajar fisika, berarti kita juga belajar apa mau Tuhan di hidup kita,” kata Lilik.

Pemuda kelahiran 25 Februari 1996 ini, memberikan rasa terima kasih yang besar pada sang ibu, karena telah dirawat semasa hidupnya, diberikan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Meskipun jadwalnya untuk mengajar di sekolah, berkuliah dan melayani di gereja sangat membutuhkan tenaga yang ekstra, ia tidak pernah mengeluh dan bahkan bersyukur.

“Yah besok saat wisuda mungkin mama tidak bisa hadir, tapi saya percaya mama pasti bangga dengan saya. Tapi teman-teman SMA, gereja dan para akademisi inilah yang telah menguatkan saya. Saya memang berasal dari keluarga tidak mampu, tapi selama ini Tuhan memampukan saya,” tutup Lilik.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana