Tingkat Kunjungan Pariwisata Jawa Timur Alami Lonjakan yang Signifikan

ILUSTRASI: Tampak para wisatawan di Gunung Bromo. FOTO: SUREPLUS/DOK

SURABAYA-SUREPLUS: Perkembangan kunjungan Wisatawan Mancanegara (Wisman) ke Jawa Timur dalam kurun waktu tiga tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan. Hal tersebut salah satunya disebabkan perhatian dan upaya  dari pemerintah daerah dengan memunculkan objek wisata baru yang menarik untuk dikunjungi di Jawa Timur, selain gencarnya promosi pariwisata baik tempat, sarana akomodasi, maupun event-event yang dilakukan oleh dinas instansi terkait yang semakin banyak. Jumlah wisman mulai Januari 2019, mengacu data online dari imigrasi, demikian pula data tahun 2018 juga menyesuaikan.

“Jumlah kunjungan Wisman ke Jawa Timur bulan Februari 2019 mencapai 17.561 kunjungan. Angka tersebut naik sebesar 23,48 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 14.222 kunjungan,” ungkap Teguh Pramono, kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur saat diwawancarai reporter Sureplus.id via ponsel.

Teguh mengungkapkan, dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2018 jumlah wisman yang datang ke Jawa Timur mengalami penurunan sebesar 10,50 persen, yaitu dari 19.621 kunjungan. Secara umum, pola kedatangan Wisman ke Provinsi Jawa Timur, pada Januari-Februari selama dua tahun terakhir, berbeda. Jika tahun 2018 di bulan Februari mengalami penurunan. sebaliknya tahun 2019 bulan Februari meningkat dibanding bulan sebelumnya. Hal ini perlu menjadi perhatian pihak terkait, agar jumlah wisman di periode berikutnya senantiasa meningkat.

Dari data yang dihimpun, sepuluh negara asal Wisman terbanyak yang mendominasi kunjungan ke Provinsi Jawa Timur pada Februari 2019 yaitu dari Malaysia, Singapura, Tiongkok, Taiwan, India, Jepang, Thailand, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Hongkong.

“Wisatawan mancanegara dari 10 (sepuluh) negara tersebut mencakup 74,38 persen dari total kedatangan wisman ke Jawa Timur pada bulan Februari. Dari 10 (sepuluh) negara tersebut, Wisman berkebangsaan Malaysia menempati posisi tertinggi, yaitu dengan kontribusi sebesar 30,68 persen, diikuti Singapura di posisi kedua dan Tiongkok di posisi ketiga berturut-turut mencapai 10,66 persen dan 10,50 persen,” ujar Teguh.

Dibandingkan dengan bulan Januari, kunjungan Wisman dari sepuluh negara utama pada Februari 2019 mengalami peningkatan, yaitu dari 9.400 kunjungan menjadi 13.061 kunjungan (naik sebesar 38,95 persen).  Wisman dari Thailand mengalami peningkatan tertinggi dibandingkan dengan bulan Januari, yaitu naik 64,94 persen (dari 271 menjadi 447 kunjungan).

“Secara kumulatif, pada Januari-Februari 2019 jumlah wisman mengalami penurunan sebesar 22,77 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 41.153 kunjungan menjadi 31.783 kunjungan,” ucap Teguh.

Sementara itu, wisman dari sepuluh negara utama selama periode tersebut mengalami peningkatan sebesar 11,44 persen, dari 20.156 kunjungan menjadi 22.461 kunjungan. Kunjungan Wisman berkebangsaan Malaysia tetap yang terbanyak pada Januari-Februari 2019 sebanyak 9.751 kunjungan, disusul dari Singapura sebesar 3.387 kunjungan dan Tiongkok sebanyak 3.336 kunjungan.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) merupakan salah satu indikator yang dapat mencerminkan tingkat produktivitas usaha jasa akomodasi. Jika TPK besar dan cenderung mendekati 100 persen, maka dapat diartikan bahwa sebagian besar kamar akomodasi laku terjual.

TPK hotel berbintang bulan Februari 2019 sebesar 52,65 persen atau naik 1,13 poin dibandingkan TPK bulan Januari sebesar 51,52 persen. Angka TPK ini berarti pada bulan Februari dari setiap 100 kamar yang disediakan oleh seluruh hotel berbintang yang ada di Provinsi Jawa Timur, setiap malamnya sebanyak 52 hingga 53 kamar diantaranya telah terjual.

“Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) untuk hotel bintang pada Februari 2019 adalah 1,83 hari. Ini berarti pada umumnya lama tamu menginap, baik tamu asing maupun tamu Indonesia, di hotel berbintang berkisar antara 1 sampai 2 hari,” tutup Teguh.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana