Sekali Lagi, Angka Impor Jatim 2019 Berhasil Turun Hingga 14,45 Persen

ILUSTRASI: Kegiatan ekspor impor yang ada di Jawa Timur. FOTO: SUREPLUS/DOK

SURABAYA-SUREPLUS: Angka Impor di Jawa Timur pada bulan Februari 2019 berhasil ditekan hingga mencapai angka 14,45 persen dibandingkan Januari 2019 lalu. Hal ini dikonfimasi oleh Badan Pusat Statistik Jawa Timur, yang mengklaim bahwa pada Januari impor mencapai 2,05 miliar dolar AS turun menjadi 1,75 dolar AS, berkat kinerja impor komoditas nonmigas yang turun lebih besar daripada impor migas.

“impor nonmigas mengalami penurunan sebesar 17,98 persen dibanding bulan sebelumnya, dari angka 1,746,83 juta menjadi 1,432,80 juta dolar AS. Impor nonmigas menyumbang 81,73 persen dari total impor ke Februari ke Jawa Timur,” ungkap Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono saat diwawancarai via ponsel, Selasa (26/3/2019).

Teguh mengungkapkan, pada bulan Februari 2019 golongan Mesin-mesin Pesawat Mekanik merupakan komoditi utama impor Jawa Timur, dengan nilai transaksi sebesar USD 210,47 juta, turun sebesar 4,67 persen dari bulan sebelumnya yang mencapai USD 220,79 juta. Kelompok barang ini mempunyai peranan 14,69 persen dari total impor nonmigas Jawa Timur bulan ini dan utamanya diimpor dari Tiongkok sebesar USD 70,00 juta.

Kelompok barang yang menduduki peringkat kedua adalah golongan Plastik dan Barang dari Plastik yang menyumbang nilai impor sebesar 7,68 persen atau USD 110,09 juta. Golongan  komoditas ini utamanya berasal dari Tiongkok dengan nilai impor sebesar USD 23,05 juta selama bulan Februari.

“Di urutan ketiga, barang masuk ke Jawa Timur adalah Golongan Besi dan Baja yang menyumbang nilai impor sebesar USD 109,46 juta atau mencapai 7,64 persen. Golongan  komoditas ini utamanya berasal dari Tiongkok dengan nilai impor sebesar USD 37,53 juta selama bulan ini,” ujar Teguh.

Peningkatan nilai impor nonmigas terbesar bulan Februari dibanding Januari 2019 terjadi pada golongan komoditas Bahan kimia organik dengan nilai impor USD 47,86 juta dari bulan sebelumnya USD 30,12 juta atau naik 58,91 persen.

“Sebaliknya penurunan impor terbesar pada golongan Besi dan Baja, nilai impornya turun dari sebelumnya USD 227,47 juta menjadi USD 109,46 juta (turun 51,88 persen),” tutup Teguh.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana