BMKG Sebut Fenomena Laut Terbelah di Jembatan Suramadu Sudah Biasa

Laut di bawah jembatan Suramadu yang sesekali mengalami fenomena ‘terbelah’. BMKG menyebut fenomena ini merupakan sesuatu yang biasa terjadi. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Warga Surabaya dan Madura sempat dikagetkan dengan fenomena air laut yang terbelah di kawasan Jembatan Suramadu. Lantaran sejak kemarin pada hari Selasa (19/3) terdapat beberapa postingan video di fenomena terbelahnya air laut tersebut yang langsung menuai banyak komentar netizen.

“Fenomena seperti ini merupakan suatu hal yang wajar dan sudah biasa. Karena pada dasarnya di pesisir sungai terdapat muara sungai yang mengalir ke air laut. Nah istilah fenomena ini adalah Haloclin, jadi di laut ada dua jenis mata air yang berbeda,” ungkap Kepala Kelompok Forcaster BMKG Ari Widjajanto saat dikonfirmasi reporter Sureplus.id melalui telepon,  Jumat (22/3/2019).

Ari mengungkapkan, adapun faktor yang mepengaruhi terjadinya fenomena tersebut adalah intensitas air yang berbeda. Sehingga memperlambat menyatunya dua jenis air tersebut. Agar air tercampur harus ada faktor yang memaksa untuk mencampur kedua jenis air tersebut. Karena dalam hal ini terdapat dua jenis air yang memiliki perbedaan salinitas (kadar garam) yang berbeda.

Menurutnya hal ini terjadi karena kemungkinan terdapat aliran sungai yang meningkat di sekitar Suramadu atau Kalimas yang masuk.Yang jelas jika terdapat dua jenis air yang bertemu dan tidak menyatu, faktor utamanya disebabkan mempunyai massa jenis yang berbeda.

“Nah untuk faktor cuaca, aktivitas pembangunan dan lainnya itu masih membutuhkan penelitian lebih lanjut,” tambah Ari.

Senada dengan Ari, Dosen Kelautan ITS Wahyudi mengungkapkan fenomena tersebut merupakan hal yang biasa karena ada perbedaan identitas. Selain itu kemungkinan yang keruh itu dari permukaan karena hujan yang lama, sehingga membawa sedimen tanah dari tanah.

“Yang warnanya biru itu dari laut, sedangkan yang keruh dari darat. Faktor lamanya penyampuran dua jenis air tersebut disebabkan arus air ditengah laut yang cukup deras. Jadi kadar garamnya berbeda yaitu tawar dan asin,” tutup Wahyudi.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana