Nostalgia Kampung Poligami di Sidoarjo

Kampung Poligami yang populer dengan sebagian warganya, terutama laki-laki yang memiliki lebih dari satu istri. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Selain terkenal dengan dengan sebutan kota Usaha Kecil Menengah (UKM), kabupaten Sidoarjo ternyata menyimpan keunikan yang lain. Keunikannya tersebut yakni ada sebuah kampung, dimana kota tersebut memiliki wilayah bernama jalan Wayo, yang dalam bahasa jawa berarti poligami. Sesuai dengan namanya, sebagian besar warga di wilayah tersebut memiliki lebih dari satu orang istri.

“Ini dulu namanya jalan KH Ahmad Dahlan, namun karena sebagian besar warganya dalam berumah tangga memiliki lebih dari satu istri, makanya warga setempat mengganti namanya menjadi jalan Wayo,” ungkap Ridhoi, mantan pengurus perangkat desa saat diwawancarai reporter Sureplus.id di kediamannya, Jumat (15/11/2019).

Ridhoi mengungkapkan, jalan Wayo yang terletak di Desa Kedung Banteng, Tanggulangin, Sidoarjo ini sudah ada sejak tahun 1979. Kala itu, sekitar 70 persen warga kampung tersebut berpoligami. Menariknya, meskipun warga di jalan tersebut tinggal satu desa dengan suami atau istri kedua, mereka tetap memiliki hubungan yang harmonis antara istri muda dan istri tua.

Hingga saat ini juga, masih ada beberapa suami yang mempunyai dua bahkan lebih istri. Ia menceritakan, ada istri pertama saja yang tinggal di jalan Wayo, ada yang tinggal bersama dalam satu atap, dan masih banyak lagi. Meskipun begitu, tidak semua suami yang berpoligami di daerah tersebut berkecukupan khusus secara finansial.

“Beda dengan dulu, poligami saat ini di daerah Wayo sudah menurun jumlahnya. Ya salah satu akibatnya karena para suami yang berpoligami di daerah itu banyak yang sudah lanjut usia. Bahkan, warga saat ini mulai enggan menceritakan sejarah atau asal usul jalan Wayo karena malu,” ungkap Ridhoi

Kendati demikian, Sholeh selaku ketua RT enggan memberikan komentar terkait naman jalan tersebut.

“Itu buatan anak-anak saja. Memang ada yang berpoligami tapi sudah tidak banyak seperti dulu. Dan poligami juga sesuatu yang wajar di kampung atau desa lain,” ungkap Sholeh.

Kendati demikian, warga setempat tidak menginginkan agar nama jalan tersebut tidak cabut, lantaran sudah mendarah daging. “Nama tersebut tidak bisa diganti, karena sudah mbalung susu alias mendarah daging,” tutup Ridhoi.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana