Tidak Hanya Eks Lokalisasi Dolly, Risma Ingin Anak Yatim Piatu Surabaya Bersekolah

Wali kota Surabaya Tri Rismaharini. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Program orang tua asuh yang dicanangkan oleh pemerintah Kota Surabaya telah berjalan dengan sangat lancar. Namun, karena kebanyakan anak-anak yatim piatu masih berasal dari kawasan eks-lokalisasi Dolly, Wali kota Surabaya Tri Rismaharini berkehendak agar seluruh anak-anak yatim piatu juga bisa menempuh dan menyelesaikan pendidikan.

“Kita melihat sebenarnya masih banyak anak-anak yang putus sekolah, kita juga bingung saat itu harus mencari uang darimana untuk membiayai. Kebetulan aku punya anak asuh yang ternyata temen-temen pemkot tertarik untuk mengangkatnya jadi anak asuh,” ungkap Tri Rismaharini, saat sesi wawancara di Mangrove, Kamis (14/3/2019).

Risma mengungkapkan, lewat dinas sosial (Dinsos) anak-anak tersebut bisa dipelajari potensinya untuk dijadikan anak asuh. Para pejabat pemerintah kota bisa mengambil berapapun anak asuh yang mereka inginkan, namun memang mayoritas anak-anak tersebut masih berasal dari kawasan eks-lokalisasi Dolly.

Menurutnya, program orang tua asuh dengan menjadikan pejabat di lingkungan Pemkot Surabaya sebagai orang tua asuh bagi anak-anak yatim ini merupakan terobosan baru. Bantuan dari para pejabat pemkot itu nantinya akan menanggung uang sekolah, uang saku dan uang makan anak-anak yatim piatu tersebut.

“Program orang tua asuh ini bertujuan memberikan kesempatan pada anak-anak yatim piatu di Surabaya, untuk bisa meraih kesuksesan dan keberhasilan sama seperti anak-anak lainnya,” ujar Risma.

Kendati demikian, Kepala Bidang Keagamaan dan Swadaya Sosial Dinas Sosial Surabaya, M Januar Rizal mengatakan, setiap bulan anak-anak ini akan mendapat bantuan uang makan, uang saku dan uang sekolah yang langsung masuk ke rekening mereka masing-masing bernama auto debit.

Januar berdalih, untuk sementara memang program orang tua asuh ini masih fokus pada kawasan ekslokalisasi seperti Sememi, Putat Jaya dan Krembangan. Namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa program ini akan terus berkembang hingga mencakup seluruh anak yatim piatu di seluruh Surabaya.

“Jumlah anak yatimny memang lebih banyak, karena pejabat yang menjadi orang tua asuh bagi satu hingga tiga anak. Usianya anak-anaknya sendiri yaitu mulai 3 tahun sampai sebelum 18 tahun,” tutup Januar.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana