Petani Jawa Timur harus Lapang Dada saat Indeks Harga yang Dibayar Mengalami Penurunan

SURABAYA-SUREPLUS: Salah satu indikator pengukur tingkat kesejahteraan petani di daerah pedesaan, yakni Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan Februari ini turun sebesar 0,89 persen dari yang bulan sebelumnya mencapai angka 108,68 kini menjadi 107,72. Dikonfirmasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, hal ini disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (it) mengalami penurunan lebih besar dibandingkan penurunan indeks harga yang dibayar petani.

“Indeks harga yang diterima petani turun sebesar 1,16 persen, dan indeks harga yang dibayar petani turun sebesar 0,27 persen. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun sebelumnya, perkembangan NTP bulan ini mengalami kenaikan sebesar 2,14 persen,” ungkap Teguh Pramono, kepala BPS Jawa Timur saat diwawancarai reporter Sureplus.id di kantornya, Senin (11/3/2019).

Melihat dari seluruh perkembangan masing-masing subsektor, tiga subsektor pertanian mengalami penurunan NTP. Subsektor yang mengalami penurunan NTP terjadi pada sub sektor Holtikultura sebesar 2,12 persen, dari 101,24 menjadi 99,10, diikuti sub sektor Tanaman Pangan sebesar 1,73 persen dari 112,51 menjadi 110,57, dan sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,03 persen dari 104,14 menjadi 104,11.

Mengenai it yang turun 1,16 persen, disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani pada tiga sub sektor pertanian. Penurunan indeks harga yang diterima petani tertinggi yaitu sub sektor Hortikultura sebesar 2,31 persen, diikuti sub sektor Tanaman Pangan sebesar 2,06 persen, dan sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,30 persen.

“Sepuluh komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang diterima petani adalah gabah, jagung, jeruk, bawang merah, apel, tembakau, cabai rawit, ikan lemuru, rumput laut, dan kol/kubis,” ujar Teguh Pramono.

Indeks harga yang dibayar petani terdiri dari 2 golongan yaitu golongan konsumsi rumah tangga dan golongan biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM). Golongan konsumsi rumah tangga dibagi menjadi kelompok makanan dan kelompok non makanan. Pada bulan Februari 2019, indeks harga yang dibayar petani turun sebesar 0,27 persen dibanding bulan Januari 2019 yaitu dari 138,13 menjadi 137,75. Penurunan indeks ini disebabkan oleh turunnya indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi perdesaan) sebesar 0,48 persen, meskipun indeks harga biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM) naik sebesar 0,19 persen.

Sebanyak sepuluh komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang dibayar petani bulan Februari 2019 adalah cabai rawit, bawang merah, tomat sayur, jagung pipilan, telur ayam ras, cabai merah, beras, benih bandeng/nener, bekatul, dan jeruk.

“Dari lima Provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan NTP pada bulan Februari 2019, empat Provinsi mengalami Penurunan NTP. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Jawa Tengah sebesar 1,06 persen, diikuti Provinsi Jawa Timur sebesar 0,89 persen, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 0,23 persen, dan Provinsi Jawa Barat sebesar 0,12 persen,” tutup Teguh.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana