Mr Jack dan Melencengnya Pemaknaan Bhinneka Tunggal Ika

Mr Jack. FOTO: Dok. Pribadi Mr Jack

Sebagaimana kita maklumi bersama, sejak kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sampai ke soal kontestasi pilpres hari ini, suhu politik kita terasa semakin panas. Dalam iklim demokrasi, situasi seperti ini mungkin dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Akan tetapi ketika tensinya telah mencapai stadium yang berpotensi memecah belah anak bangsa, maka persoalannya menjadi lain. Alih-alih menjadi sebuah diskursus yang memungkinkan lahirnya pemikiran-pemikiran politik baru yang lebih segar, perbedaan pandangan politik itu justru menjerumuskan para pemimpin dan politikus kita ke dalam politik demagogi yang manipulatif dan penuh kebencian; merasa paling pancasilais, paling saleh, paling toleran, paling demokratis. Padahal, dalam kenyataannya, tindakan mereka bukanlah cerminan seorang pancasilais, tak ada kesalehan, intoleran, bahkan membunuh demokrasi dengan membungkam mulut oposisi ke dalam penjara. Dan yang lebih celaka, dampak dari semua itu adalah terseretnya masyarakat ke dalam permusuhan yang tidak masuk akal. Begitupun dengan kaum intelektual dan seniman. Mereka yang harusnya mampu memberikan contoh yang baik ketika masuk ke kubu kubu-kubu itu, malah jadi tukang gendang, menambah keruh keadaan.

Kenyataan ini tentu saja merisaukan mereka yang tetap berupaya menjaga akal sehat, termasuk Mr Jack. Sebuah album dirilis. Judulnya, “Bhinneka Tunggal Ika.” Dalam hati saya sempat bertanya, mengapa grup musik yang digawangi Mugix Adam (gitar) dan Dita Saferina (harmonika/vocal) ini memilih semboyan yang agung sebagai ungkapan namun kedodoran dalam praktik politik kita hari-hari ini sebagai judul? Ketika saya simak liriknya, saya akhirnya mengerti, bahwa gugatan Mr Jack berada pada wilayah implementasi yang tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan Mpu Prapanca ketika menuliskan semboyan ini di dalam Kitab Sutasoma tujuh abad yang lalu. Lalu bagaimanakah harusnya Bhinneka Tunggal Ika itu diimplementasikan, khususnya dalam konteks persaingan politik hari ini? Mr Jack, dalam lagu yang liriknya ditulis oleh Dita Saferina ini, mengatakan demikian :

Bhinneka Tunggal Ika

Di dunia hiruk pikuk membingungkan ini
Aku hanya bisa memilih
Apa yang kuyakini
Dan jika pilihanku itu
Tak sejalan dengan kamu
Mengertilah kita tak harus setuju

Aku kiri kamu kanan kita bersebrangan
Tapi itu bukan berarti
Kita tidak berkawan

Aku apalah artinya
Kalau kamu tidak ada
Walau berbeda kita semua saudara

Mari kita bagi hangatnya sinar mentari
Jabat tangan ini rasakan damai
Di sanubari

Sejak zaman Yunani Kuno sekitar 500 – 300 SM, orang-orang telah sepakat bahwa karya seni yang baik adalah karya seni yang mengajarkan nilai-nilai moral yang baik. Artinya, secara didaktis, seni diciptakan untuk mewujudkan tatanan sosial yang lebih baik, atau dengan kata lain, seni tidak dapat terpisah atau dipisahkan dengan kehidupan sosial. Karenanya ketika terjadi persoalan sosial, baik di wilayah politik, ekonomi, maupun budaya, seni sudah semestinya ambil bagian. Dan Mr Jack, saya kira, lewat album “Bhinneka Tunggal Ika” ini, telah menunaikan tanggung jawab kesenimanannya untuk menempatkan seni sebagaimana konsensus di zaman Yunani Kuno itu.

Fahmi Faqih, penyair, tinggal di Bandung