JIP Serukan Perlawanan Stigma Intimidasi ODHA di Kalangan Masyarakat

Forum diskusi JIP bersama perwakilan komunitas kemanusiaan dan kesehatan membahas seputar keadaan penderita HIV. Bersama awak media, mereka mengutarakan bagaimana seharusnya edukasi seputar penyakit berbahaya tersebut diperlakukan oleh masyarakat. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Jaringan Indonesia Positif (JIP) menggelar diskusi bersama perwakilan komunitas penderita penyakit HIV. Diskusi kali ini, membahas pemenuhan hak atas kesehatan seseorang denga penyakit HIV melalui sistem dukungan sebaya dalam kerangka Hak Asasi Manusia dan kesetaraan gender.

“Pemahaman orang-orang saat ini masih kurang mengenai penyakit HIV, bahkan di kota-kota besar sekalipun. Bahkan, tidak jarang Orang dengan penyakit HIV AIDS (ODHA) dikaitkan dengan hal-hal yang tidak baik, seperti pelacur dan orang nakal oleh masyarakat,” ungkap Setia Budi, perwakilan Jaringan Positif Indonesia saat jumpa pers di Coworking Satu Atap Surabaya, Jumat (22/2/2019).

Budi mengungkapkan, dari hasil survey nasional hanya sebanyak 5 persen dari masyarakat yang benar-benar mengetahui soal penyakit HIV. Untuk itulah sosialisasi soal penyakit berbahaya ini perlu ditingkatkan, agar ODHA tidak mendapatkan kesempatan hidup bermasyarakat yang layak, tidak dikucilkan maupun mendapatkan tekanan secara mental.

Seperti yang diketahui, seseorang yang terkena penyakit HIV tidak hanya dari kalangan pekerja seks maupun narkoba (populasi kunci), namun bisa saja dari kontak fisik bahkan faktor keturunan. Selain itu, siapapun pasti juga bisa  terkena penyakit yang biasa disebut B-20 tersebut, seperti pejabat maupun pemuka agama maupun aparatur negara dan masyarakat sipil dari semua kalangan.

“Saya pernah bertemu seorang ibu, yang dimana ia membuka usaha kue. Awalnya berjalan dengan baik, namun begitu sang ibu tersebut ketahuan mengidap penyakit HIV, pembelinya pun berkurang secara drastis dan bahkan para tetangga pun mulai menjauhinya,” ujar Sista, salah satu perwakilan komunitas yang hadir.

Sista berpendapat, seharusnya tidak ada pengekangan pada ODHA dari segi moril maupun agama, lantaran setiap manusia berhak mendapatkan perlakuan setara. Justru nilai-nilai kemanusiaan sangat dibutuhkan oleh beberapa komunitas penderita HIV, yang selama ini masih menyembunyikan kebenaran demi menghindari intimidasi masyarakat sekitar.

Memang ada beberapa dari penderita HIV sukses di berbagai bidang selain di LSM-nya. Namun, kesuksesan tersebut tidak serta merta didapatkan begitu saja. Pastinya sebelum meraih kesuksesan, ODHA juga pernah mengalami tekanan pikiran karena perlakuan masyarakat.

“Karena itulah, memang benar pepatah yang mengatakan ‘Lebih baik mantan perampok daripada mantan ustad’, lebih baik perubahan dari yang jahat ke baik daripada baik ke jahat,” tutup Sista.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana