Pasar Pabean Tak Lekang oleh Waktu

ILUSTRASI – Warga saat memilih ikan laut di pasar Pabean, Surabaya. FOTO: SUREPLUS/DOK

Di tengah gempuran pasar-pasar modern seperti hypermart, carrefour, dll, Pasar Pabean, dengan segala kisah keseharian dan pesonanya, tetap bergeming seakan tak lekang oleh zaman. Harga yang murah, kualitas produk yang terjaga  mutunya, adalah faktor utama mengapa pasar ini tetap menjadi salah satu simpul perekonomian di Kota Surabaya.

Berlokasi di Jl Songoyudan Surabaya, Pasar Pabean merupakan pasar tradisional tertua yang sudah ada sejak tahun 1849. Setelah direnovasi pada tahun 1930 dan mengalami perbaikan terus menerus sampai pada bentuknya sekarang, pemerintah Surabaya akhirnya menetapkan pasar yang berbatasan dengan Jl KH Mas Mansur (dulu dikenal dengan nama Kampementstraat, perkampungan Arab) dan terkenal sebagai sentra perdagangan rempah-rempah ini, sebagai kawasan cagar budaya. Penetapan itu tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 12 Tahun 2014 tentang tata ruang wilayah kota Surabaya tahun 2014-2034.

Bila di sebelah Timur pasar didominasi rempah-rempah, bumbu dapur dan bahan pangan, maka di sektor Barat adalah pusat penjualan ikan. Mulai ikan segar sampai ikan asin, semua tersedia. Ikan-ikan itu biasanya dipasok dari berbagai tempat seperti Kenjeran, Sedati, Paciran, Gresik, bahkan Muncar.

Mengingat beragamnya produk-produk yang tersedia di pasar ini, dapat dikatakan aktivitas jual-beli terjadi sepanjang 24 jam. Jika di blok rempah-rempah, bumbu dapur dan bahan pangan dimulai dari pagi hingga menjelang sore, maka ketika menjelang sore hingga pagi hari, digantikan dengan ramainya aktivitas pedagangan ikan.

Selayaknya pasar tradisonal, hiruk pikuk percakapan tawar menawar antara pedagang dan pembeli merupakan pemandangan yang lazim ditemui. Jalanan yang becek, latar belakang etnis yang beragam ditambah aroma ikan dan rempah, semuanya berbaur menjadi sebuah kesatuan yang khas, yang tak pernah tergantikan oleh pasar semodern apapun. (ff)