Lentera Fotosintesis Karya Mahasiswa Surabaya Percepat Tumbuhnya Tanaman

Tim gabungan dari beberapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya jurusan teknik dan kesehatan menciptakan sebuah inovasi dibidang agricultural bernama Lentera Fotosintesis, yang diklaim dapat mempercepat tumbuhnya tanaman tanpa harus bergantung pada sinar matahari. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Salah satu masalah yang terus menghantui pembangunan petani Indonesia adalah perubahan iklim yang tak menentu dan sempitnya penguasaan lahan. Untuk menanggapi problematika tersebut, tim gabungan dari beberapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya jurusan teknik dan kesehatan menciptakan sebuah inovasi dibidang agricultural bernama Lentera Fotosintesis, yang diklaim dapat mempercepat tumbuhnya tanaman tanpa harus bergantung pada sinar matahari.

“Lentera Fotosintesis memiliki fungsi untuk mempercepat tumbuhnya tanaman, serta dapat digunakan pada tanaman musiman agar dapat tumbuh kembali dan menghasilkan buah disetiap musimnya,” ujar Ghois Kurniawan, perwakilan dari 7 orang anggota tim kreator inovasi, saat ditemui di kampus UM Surabaya, Selasa (12/1/2019).

Ghois mengungkapkan, prinsip kerja alat ini adalah supaya tanaman dapat berfotosintesis selama 22 jam perhari. Alat ini telah dikalibrasikan dengan spectrum dari cahaya matahari, sehingga warna spectrum dari alat ini sesuai dengan yang dihasilkan oleh matahari. Alat ini bekerja secara otomatis, menggunakan sensor cahaya yang akan menyala pada malam hari dan otomatis mati pada siang hari.

Produk inovasi ini memiliki keunggulan tersendiri, yakni dapat menghindarkan tanaman dari hama, buah yang dihasilkan lebih besar ukurannya, hemat energi hingga 80% karena menggunakan lampu LED 30 watt. Selain itu, alat ini dapat digunakan pada pertanian didalam gedung bertingkat sehingga petani dapat memaksimalkan lahannya.

“Untuk alat dan bahan yang digunakan, yaitu LED HPL blue, LED HPL deep blue, LED HPL red, LED HPL deep red, Led driver water resisten 3W 670mA, Heatsink alumunium square super conduct dan thermal pasta. Semua bahan ini bisa didapatkan diarea Surabaya, jadi tidak begitu kesulitan untuk mencarinya,” ujar Ghois.

Adapun cara pembuatannya, yang pertama adalah menggunakan prisma untuk mengkalibrasi warna spektrum dari sinar matahari, kedua siapkan lampu LED HPL dengan spektrum warna yang hampir sama dengan hasil spektrum dari spektrometer. Langkah berikutnya, atur lampu LED di bidang reflektor dengan pengaturan seri sama dengan 30W, lalu hubungkan input dari lampu ke driver LED 30 W.

Selepasnya, sambungkan reflektor ke tiang penyangga sebagai penahan Lentera Fotosintesis, hubungkan tombol daya dari driver LED ke sumber daya PLN. Setelah terhubung, ukur spektrum cahaya yang dihasilkan oleh alat ini dengan spektrometer dan samakan dengan hasil pengukuran spektrum pada siang hari. Langkah akhir, yakni dengan mengukur intensitas cahaya dengan jarak 2m, 3m dan 5m menggunakan LUX meter.

“Untuk caranya penggunaannya cukup sederhana. Yang pertama produk ini harus menancap ke tanah sedalam 30cm, kedua pastikan alat ini terhubung dengan listrik, dan terakhir sensor cahaya akan menyala secara otomatis pada malam hari, dan juga mati secara otomatis pada saat matahari terbit,” kata Ghois.

Rektor UM Surabaya, Sukadiono mengungkapkan bahwa tim ini telah berhasil membawa pulang medali emas, dalam ajang kompetisi Bangkok International Intelletual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition. Karya original dari pemuda-pemudi tersebut, nantinya akan mengalami beberapa tahapan peningkatan dan penyempurnaan lagi demi hasil yang maksimal.

“Kampus Muhammadiyah ini sebenarnya tidak memiliki jurusan khusus pertanian. Ini menjadi hal luar biasa, dimana kami akan mempertimbangkan untuk membuat prodi pertanian di kampus ini,” ujar Sukadiono.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana