Ndindy Indijati, Seorang Pengabdi Seni Teatrikal Sejak Tahun 1959

Ndindy Indijati, seniman teater. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Tekad kemerdekaan yang selalu dijunjung, dibarengi oleh semangat heroik jiwa seniman membuahkan seseorang dengan talenta penuh makna dalam berkarya. Seseorang tersebut bernama Ndindy Indijati (59), seniman teater yang menjadi sosok nyata pejuang kemerdekaan dan seniman teatrikal dengan emansipasi wanita yang tinggi.

“Memang, saya menemukan kebulatan tekad seni ketika saya berperan dalam sebuah teatrikal, entah itu menjadi pemain maupun seorang penulis naskah,” ujar Ndindy saat ditemui reporter Sureplus.id di Cak Durasim, Minggu (10/2/2019)

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini, mulai menyelami dunia seni sejak duduk di bangku SMU, khususnya seni teater. Meski diakui, kegiatan yang ia geluti tidak mendapatkan restu sepenuhnya dari keluarga. Namun dengan idealis yang melekat dalam benaknya. ia putuskan untuk tetap berada di jalur seni.

Rintangan silih berganti, beberapa prahara masuk dalam hidupnya  tak menyurutkan gairah dalam berkesenian. Bahkan diakuinya beberapa kali saat pentas, kedua kakaknya pun tidak beritikad untuk menontonnya. Karena itulah ia semakin terpacu dalam mewujudkan impiannya. Alhasil, Ndindy sering memenangkan berbagai kompetisi seni tingkat Surabaya dan  Jawa Timur.

“Saya merasa memiliki 99 nyawa ketika berada di panggung, saya bebas mengeksploer diri dan menikmati hidup ini,” pungkasnya.

Hingga pada suatu titik di usianya ke 27, perempuan yang pernah menjabat sebagai Ketua BMS (Bengkel Muda Surabaya) ini mengakhiri masa lajangnya menuju pelaminan dengan  seorang dokter sekaligus politikus dan penikmat seni bernama Zulkifli. Dari hasil pernikahannya, dikaruniai tiga orang putri. Namun di tengah perjalanan rumah tangga yang hiruk pikuk, keduanya memutuskan tak saling bersama lagi.

Di situlah tradisi perempuan berkembang menjadi emansipasi. Peran Ndindy dalam memperjuangkan hidup dipertaruhkan. Ibu sekaligus kepala rumah tangga yang mampu membesarkan ketiga putri dengan baik, mengaku mengalami beberapa kesulitan. Terlebih putri sulung bernama Ega mengalami tunawicara.

“Tentu, kesulitan ada. Namun kembali lagi, saya hidup dengan ambisi, karena ambisilah saya bertahan dan mampu,” tuturnya sembari tersenyum lega.

Perpisahan dengan sang suami memang terjadi, namun tidak dalam berseni. Di samping membesarkan ketiga putrinya sekaligus membiayai keluarga seorang diri, Ndindy tetap berkarya. Itu terbukti  di tahun 2006-2007, Ndindy tergabung dalam sebuah Bengkel Teater Rendra (BTR) milik sastrawan legenda Ws Rendra yang berada di Depok, Jawa Barat. Bahkan dia pernah mengikuti proses produksi pementasan berjudul “Nyai Ontosoroh”, disutradarai Ken Zuraidah, istri Rendra.

“Di tahun 2009-2010, saya  mendapatkan penghargaan dari Gubenur Jawa Timur sebagai aktris terbaik. Saya menjabat sebagai Ketua Bengkel Muda Surabaya selama dua periode,” tutup Ndindy.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana