Ceplukan, Buah Mahal yang Dulu Diabaikan

Physalis atau ceplukan – Foto : Nature’s Pride

Dulu ia tak dihirau bahkan dicampakkan. Tapi kini, ia menjadi primadona dan diburu di mana-mana. Begitulah yang terjadi pada ceplukan. Buah yang biasa dijumpai di banyak tempat di dataran rendah maupun tinggi ini, baik yang tumbuh liar di lahan-lahan kosong maupun di pekarangan rumah, sekarang menjadi buah yang dicari dan bernilai ekonomi tinggi. Di mal-mal kota besar seperti Jakarta, misalnya, harga sekilo buah ceplukan bisa mencapai Rp500 ribu.

Ceplukan memiliki banyak varian. Yang mula-mula tumbuh di Indonesia adalah jenis physalis angulata dan physalis minima yang dibawa orang-orang Spanyol pada abad XVII, ketika VOC, Spanyol, dan Portugis, bersaing memperebutkan kepulauan rempah di Maluku. Tak berselang lama, masuk pula ceplukan jenis physalis peruviana yang didatangkan dari wilayah pegunungan Peru oleh orang-orang Belanda.

Ceplukan Peru ini berupa terna menahun yang bisa hidup lebih dari satu musim. Ia mudah dibedakan dari jenis yang lain dari bunganya yang mencolok dan ukurannya yang lebih besar. Oleh orang Belanda yang hidup pegunungan zaman dulu, selain dimakan segar, juga dijadikan selai yang untuk roti.

Physais peruviana yang dibawa oleh orang Belanda VOC ke Eropa, pada mulanya tidak disebut dengan ceplukan Peru, melainkan kaapse kruisbes atau cape goosberry. Mereka mengira bahwa tanaman ini hidup di Kaap de Goede Hoop (Tanjung Harapan) di ujung selatan Afrika, tempat mereka mendirikan benteng persinggahan dan pelabuhan istirahat bagi kapal kayu mereka yang hendak mengisi bahan makanan dan air tawar, sebagai bekal pelayaran berikutnya. Sampai sekarang jenis peruviana ini masih terkenal sebagai cape gooseberry.

Buah ceplukan memiliki banyak nama yang berbeda di masing-masing daerah. Di Jakarta orang menyebutnya dengan cecenet, di Sumatra dikenal dengan leletop, di Bali keceplokan, di Lombok dedeses, adapun di Madura dikenal dengan nama nyot-nyotan.

Dalam Plantes Medicinalis karangan dua pakar botani Prancis, Volak dan Jiri Stoduca, dikisahkan bahwa ceplukan sudah dikenal oleh orang Romawi di masa kejayaan mereka menjajah bangsa-bangsa Timur.

Ketika terjadi perang di Iran Selatan, banyak prajurit Romawi yang menderita luka. Untuk mengobati luka-luka itu, mereka memanfaatkan daun ceplukan yang sudah dihaluskan dengan nemempelkannya pada luka serta memakan buahnya. Mereka begitu kagum akan daya penyembuh tanaman ini, sampai-sampai menyebutnya dengan sebutan physalis (penyelamat), dan menjadikannya sebagai sandi dalam pertempuran. Setelah perang berakhir, tanaman ceplukan dibawa pulang ke Roma dan menjadi tanaman obat terkenal di seluruh dunia zaman itu

Berdasarkan hasil analisis berabad-abad kemudian, ternyata buah tanaman itu mengandung vitamin C yang relatif tinggi, lebih tinggi daripada buah anggur dan memiliki daya penyembuh luka yang sangat besar, seperti yang digunakan para prajurit Romawi di pertempuran Iran kala itu. (ff)