Mahasiswa Surabaya Ciptakan Penggorengan Model Sederhana Untuk Membantu Pelaku UKM

Tim mahasiswa perancang mesin penggorengan kerupuk otomatis kampus UKWMS, saat sedang melaksanakan peragaan perangkat rakitan. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Dalam mempermudah masyarakat dalam berbisnis makanan, khususnya yang untuk jajanan yang harus digoreng, beberapa mahasiswa UKWMS jurusan teknik mesin telah membuat terobosan baru dengan mesin penggoreng kerupuk otomatis. Di pimpin oleh dosen  fakultas teknik Andrew Juono, rangkaian inovasi teknologi tepat guna (TTG) ini berupa mesin penggorengan khusus dengan modifikasi elektronik, yang telah melewati beberapa tahapan penyempurnaan.

“Jadi berawal dari ide usaha kerupuk. Kami menemukan salah satu pengusaha kerupuk di Mojokerto, tepatnya produsen kerupuk singkong yang mengajak masyarakat sekitarnya untuk berproduksi, sehingga ia menghasilkan kerupuk singkong kering. Lalu saya berpikir, mestinya dari yang kering ini kita bisa manfaatkan lagi dengan penggorengan hingga menjadi kerupuk siap makan,” ungkap Andrew Juono, koordinator kelompok inovasi teknologi tepat guna (TTG), saat diwawancarai reporter Sureplus.id di Kampus UKWMS, Sabtu (9/2/2019).

Mesin tersebut terdiri dari mesin pemanas minyak, dengan bahan bakar gas elpiji lalu pengendalian menggunakan sistem relay untuk menjaga sensornya. Cara menggunakannya pun sangat sederhana, yakni dengan menuangkan kerupuk mentah ke dalam minyak yang telah dipanaskan hingga 180 derajat Celcius dalam mesin, kemudian tunggu beberapa saat hingga ada bunyi yang menandakan bahwa kerupuk telah matang. Langkah akhirnya, dengan menekan tombol di panel atas untuk mengangkat tirisan kerupuk dan dituangkan pada sebuah wadah secara manual.

Pada bagian bawah mesin, terdapat penyaring yang digunakan untuk memisahkan minyak dan kerupuk secara keseluruhan agar didapatkan hasil kerupuk yang maksimal dan benar-benar siap konsumsi. Setelah beberapa tahapan uji coba, kerupuk ini sendiri dapat bertahan hingga jangka waktu dua bulan paling lama. Mesin tersebut memiliki dua mode, yaitu otomatis saat menggoreng dan manual saat proses penirisan.

“Perancangannya sendiri sudah dari tahun 2017, jadi pengerjaan di laboratorium ini memang mencoba untuk berinovasi pada teknologi tepat guna apapun. Kita lihat dulu, permasalahan di masyarakat ini apa, dan apa yang bisa kita lakukan, kita coba aplikasikan,” lanjut Andrew.

Andrew mengungkapkan, ia bersama timnya akan mengadakan trial di Situbondo, karena disana ada salah satu desa miskin yang kebetulan kepala desa dan masyarakatnya ingin berkembang. Selain itu, menurutnya pemikiran masyarakat akan desa miskin itu kan kalau hanya diberikan sumbangan saja ya habis dan selesai. Ia berkeinginan untuk menggugah masyarakat membuat unit produksi dan pendampingan hingga kondisi yang mandiri.

Dirinya juga mengklaim tidak ada kesulitan serius yang dihadapi ketika proses pembuatan mesin tersebut. Hal tersebut lantaran sumber daya manusia yang efektif serta komponen lokal yang cukup untuk memenuhi syarat perakitan mesin tersebut.

“Beberapa waktu lalu di Surabaya sempat berdiskusi dan bekerja sama dengan produsen kerupuk, saat acara gelar karya di Pemerintah Kota Surabaya. Tim saya memang fokus dalam pengembangan teknologi tepat guna untuk diaplikasikan pada pelaku usaha,”

Untuk pengembangan mesin kedepannya, Andrew berharap tidak berkembang menjadi advanced tchnology, namun menjadi pengembangan dalam penggunaan di setiap kelompok UMKM yang mau membangun atau memaksimalkan usaha. Selain kerupuk, material yang bisa digunakan yakni ikan dan tempe sesuai dengan potensi daerah.

Bila dilihat dibagian bawah, ada kotak panel kontrol mesin khusus untuk mengontrol waktu penggorengan. Seperti alat untuk menyalakan kompor gas, pada alat ini hanya tinggal memutar untuk menentukan pilihan waktu sesuai dengan kebutuhan. Andrew mengklaim, agar seluruh elemen masyarakat dapat menggunakan mesin sederhana ini dengan maksimal tanpa harus bingung.

“Sampai saat ini, saya bersama tujuh mahasiswa ini sudah sering membuat inovasi. Kita mulai karya apapun ya hanya tujuh orang ini, mulai dari penggorengan, pengeringan, pompa dan filter mobile, kita akan selalu mencoba lagi untuk masyarakat,” tutup Andrew.[DEWID WIRATAMA/DM]