Sekilas Mengenai Ekonomi Syariah dan Tahapan-tahapannya

Foto Ilustrasi : Turismo Cueta

Persoalan ekonomi, adalah persoalan integral dari ajaran Islam. Pembahasannya telah berlangsung sejak diturunkannya Al-Quran kepada umat manusia. Meski demikian, para ulama tidak pernah mengklaim ekonomi sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri. Klaim “economics as a science” sendiri baru muncul pada abad 19 oleh Alfred Marshall, sehingga ada kesan seolah-olah ilmu ekonomi itu lahir dan berkembang di Barat, dengan menafikan peran dunia Islam yang sesungguhnya sangat signifikan. Lebih-lebih ketika dengan tesis Great Gap Analysis-nya Joseph Schumpeter, yang menyatakan bahwa dunia ini berada dalam masa kegelapan selama kurang lebih 5 abad.

Ekonomi Syariah, adalah sistem ekonomi yang emberionya telah dipraktikkan oleh Rasulullah SAW, ketika berusia sekitar 16 – 17 Tahun, di sekitar masjidil haram dengan sistem murabahah atau jual beli yang harga pokoknya diinformasikan dengan margin yang dinegosiasikan. Rasulullah SAW memulai aktifitas perdagangan dengan cara ini dikarenakan perekonomian Abu Thalib, paman beliau, mengalami kesulitan.

Ketika Rasulullah SAW berusia 20-an dan memulai bisnis kongsi dagang (musyarakah) dengan Sayyidatuna Khodijah, bisnis Rasulullah SAW ini berkembang pesat, sampai – sampai beliau mampu memberikan mahar kepada Khodijah sebesar 100 ekor unta merah (pada saat itu unta merah adalah kendaraan termahal).

Akad – akad syariah seperti Murabahah, Mudharabah, Musyarokah, Salam, Istisna, dan Ijaroh memang telah ada dan biasa dilakukan oleh Bangsa Arab ketika itu, sebagaimana di jabarkan dalam Al-quran dalam Surat Quraisy.

Bahkan bukan hanya akad-akad yang syariah saja, akan tetapi akad – akad yang dilarang syariah seperti mengambil riba, penipuan dan perjudian pun juga dipraktikkan oleh mereka. Dalam anggapan mereka, ketika mereka melakukan praktik riba, mereka sedang taqarub (mendekatkan diri) kepada Tuhan. Dan ketika mereka melakukan perjudian anggapan mereka, perbuatan itu adalah kedermawanan.

Misinterpersepsi masyarakat yang sangat jauh dari nilai kebenaran ini, juga terjadi di masa sekarang. Anggapan-anggapan yang salah dianggap benar dan yang benar dianggap salah.

Pada saat kesimpangsiuran persepsi manusia kian rumit, maka pada saat itulah Islam memberikan jawaban tegas, jelas, dan terang benderang. Seperti riba yang dianggap taqarub kepada Allah, maka Allah SWT menjawab persoalan itu dengan firman bahwa riba tidak menambah apapun disisi Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 275-279, orang-orang yang memakan riba seperti orang yang kerasukan dan bahkan dianggap mengajak perang kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tahapan ini, bisa dikatakan sebagai fase pertama perkembangan teori klasik ekonomi Islam, yang dihasilkan selama kurun waktu 9 abad, meski para tokoh ulama yang muncul era itu tidak menyebutnya sebagai teori ekonomi. Topik-topik yang dibahas pada ilmu ekonomi konvensional modern sesungguhnya telah mendapat pembahasan yang mendalam oleh paratokoh ulama di masa itu, seperti teori tentang uang dan moneter; harga dan pasar; zakat, pajak, dan kebijakan fiskal; pembangunan ekonomi dan peran negara; dan lain-lain.

Tokoh ulama terkemuka yang menjadi tulang punggung pengembangan teori klasik ekonomi Islam masa itu antara lain adalah Abu Yusuf, Abu Ubaid, al-Ghazali, Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Ibn Khaldun, Al-Maqrizi, dan lain-lain. Karya-karya mereka bahkan masih tetap relevan hingga saat ini.

Memang ada masa dimana perkembangan ekonomi Islam mulai mengalami stagnasi. Akan tetapi Islam tetap memiliki kekuatan dengan Turki Usmani sebagai representasi utama. Kontribusi pentingnya adalah menjadikan wakaf tunai sebagai mesin pertumbuhan ekonomi selama kurang lebih lima abad.

Kontribusi lain pada tahap ini terkait dengan konsep asuransi takaful atau asuransi syariah. Di awal abad 19, seorang faqih dari mazhab Hanafi bernama Ibn Abidin (1784 – 1836 M), membahas secara eksplisit definisi, konsep, dan pola transaksi asuransi yang sesuai dengan syariat Islam. Pembahasan tersebut kemudian diperkuat oleh Muhammad Abduh melalui fatwanya pada awal abad ke-20. Fase ini juga menjadi saksi tumbuh dan berkembangnya ilmu ekonomi konvensional di daratan Eropa.

Tahap selajutnya  adalah tahap kembali bangkitnya ekonomi di pentas dunia, yang hingga saat ini, para ekonom-nya masih terus melakukan proses reformulasi ilmu ekonomi Islam sebagai sebuah disiplin ilmu yang mampu menjawab berbagai tantangan ekonomi dunia. [ff]