Yopi Hidayat Angkat Bicara Soal Industri Migas Indonesia

Acara diskusi “Rembug Migas dan Media Nasional” yang berlokasi di Hotel Kampi, Rabu (6/2/2019). FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Industri minyak saat ini tidak hanya penting untuk penerimaan negara, namun erat ikatannya dengan berbagai soal. Hal tersebut disampaikan oleh Yopi Hidayat, pengamat ekonomi saat menghadiri diskusi “Rembug Nasional Migas dan Media” yang digelar di Hotel Kampi, Rabu (6/2/2019).

“Salah satunya adalah kurs rupiah. Nanti kita akan mengetahui betapa krusialnya dukungan kita pada industri minyak di Indonesia,” ungkap Yopi.

Yopi menceritakan, kilas balik pada tahun 2018 lalu Bank Indonesia menaikkan bunga sebanyak 4 kali. Jika bunganya naik, maka kredit cicilan masyarakat juga ikut naik. Bahkan, kenaikan bunga Bank Indonesia terbilang cepat sekali dalam tahun 2018 yakni sebanyak enam kali. Sedangkan untuk kurs rupah melawan dollar, tahun 2018 melejit hingga angka Rp.14.500 per satu dollar.

Menurutnya, pemerintah telah menerbitkan surat hutang menggunakan bunga. Jika Bank Sentral di Amerika menaikkan bunga agar surat hutang pemerintah laku dijual, maka bunga BI pun harus naik agar mendapatkan mina beli. Jika pemerintah Indonesia menaikkan bunga, anggaran pemerintah untuk membayar bunga hutang itu lebih besar.

“Menyangkut juga soal krisis tahun 2008 di Amerika, salah satu jurus pemerintah Amerika untuk mengatasi krisis itu dengan mencetak uang. Jadi uang tersebut di gunakan oleh pemerintah RI untuk membeli obligasi pada Amerika Serikat,” ungkap Yopi.

Ia menambahkan, bahwa uang tersebut tidak hanya masuk pada pemerintahan Amerika, namun menyebar ke seluruh dunia, masuk dalam pasar keuangan Indonesia juga. Hal inilah yang meyebabakan stabilnya ekonomi Indonesia pada saat era Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara nilai uang yang terus naik, Bank Sentral di Amerika tidak lagi mencetak uang semenjak tahun 2013.

Kemudian di tahun 2018, pencetakan uang dari Bank Sentral Amerika diminimalisir, lantaran pelan-pelan uang yang berupa obligasi mulai dijual kembali. Hal ini berdampak pada penarikan dollar dari seluruh dunia, yang hingga kini jumlah dollar sangat sedikit. Yopi menambahkan jika suplai uang sedikit, maka harga dollar akan naik.

“Kalau dilihat, inflasi Indonesai ini termasuk menurun hingga bulan Januari kemarin hingga dibawah tiga persen. Jadi bukannya kampanye, memang pencapaian pemerintah dalam menjaga inflasi sudah sangat baik,” tutup Yopi.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana