Industri Migas Nasional Masuki Babak Baru di Tahun 2019

Acara diskusi “Rembug Migas dan Media Nasional” yang berlokasi di Hotel Kampi, Rabu (6/2/2019). Acara ini mengupas Tantangan migas yang dihadapi di era industri 4.0, dengan menghadirkan pembicara dari menteri ESDM, Ignatius Johan. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Indusri Minyak dan Gas (Migas) di negara Indonesia tengah menghadapi tantangan baru di awal tahun 2019 ini. Hingga kini, tercatat APBN 2019 sebesar 2.165 triliun rupiah dengan asumsi listing minyak sebanyak 775 ribu barrel perhari, sedangkan listing gas sebesar 250 ribu barrel dari data yang didapat oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani.

“Oleh karena itu, kita melihat bahwa kebutuhan minyak dan gas kita diatas jumlah tersebut sebanyak 1,7 juta. Tahun 2025 diprediksi 1,9 juta, tahun 2050 diprediksi 3, juta barrel per hari,” ungkap Hadi Prasetya, pengamat ekonomi saat acara diskusi “Rembug Nasional Migas dan Media” di Hotel Kampi, Rabu (6/2/2019).

Hadi menjelaskan, dari APBN sebesar 2.165 triliun tersebut, ternyata sebanyak 1.780 triliun merupakan pajak. Sedangkan dari migas kurang lebih 160 triliun kecuali batu bara. Porsi migas terhadap APBN sejak tahun 70an hingga sekarang terus mengalami penurunan. Menurutnya, sejak tahun 1973 hingga 1983, 60 persen APBN tergantung oleh migas.

Dirinya mengapresiasi kepada ESDM, lantaran realisasi perkembangan migas tahun 2018 lalu telah meningkat. Kendati demikian, Hadi juga menyampaikan, saat ini Indonesia telah mengalami diversifikasi dan hanya tinggal memaksimalkan pada hal-hal pemasukan devisa yang banyak.

“Perlu tidak kita swasembada migas? Jawabannya, tidak harus dipaksakan. Singapura saja tidak memiliki migas juga tidak apa-apa, tapi cadangan devisanya luar biasa hingga bisa bertahan untuk kebutuhan migas negaranya,” ujarnya.

Karena migas ini merupakan persoalan high modal dan high risk, dibutuhkan juga pengetahuan dan hard skill. Ekspolarasi deep water menurut Hadi bisa didapatkan atau tidak, lantaran jika resiko diatas 50 persen tidak memungkinkan juga untuk bidding. Ini juga merupakan bagian daripada SKK migas dan Pertamina, dengan syarat selama tiga tahun ini benar-benar membangun sumber daya manusia.

“Sudah banyak saham-saham yang kita dominan di Riyaldh dan sebagainya. Dan persoalan lainnya yaitu ketika kita melihat ada SDA Migas yang potensial, kita inves habis-habisan. Seperti di Qatar, yang saat ini sedang habis-habisan investasi gas,” kata Hadi.

Pengamat ekonomi tersebut juga mengatakan, yang menggerogoti devisa negara saat ini adalah impor migas.

“Sehingga sekarang yang kita dorong, adalah SKK Migas dan Pertamina dan kalau bisa dengan berbagai produksi yang kita punya. Kita tidak usah lagi mengirim keluar mentah, dan kalau bisa dikilang disini,” tutup Hadi.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana