Hadiri Rapat BNPB, Jokowi Singgung Kesiapan Hadapi Bencana Alam di Indonesia

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo saat berkunjung ke Surabaya dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Penanganan Bencana, Sabtu (2/2/2019). FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYAS-SUREPLUS: Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo berkunjung ke Surabaya dalam rangka menghadiri acara Rapat Koordinasi Nasional Penanganan Bencana 2019. Berlokasi di Jatim Expo Surabaya, ada beberapa perihal yang ia bahas. Salah satunya yakni seputar berbagai bencana alam yang terjadi di wilayah Indonesia. Jokowi mengingatkan jika kepulauan Indonesia dikelilingi garis cincin api dunia.

“Oleh karena itu saya selalu menghimbau pada Badan Penanggulangan Nasional (Bapenas) dan Badan Penanggulangan Daerah (Bapeda) untuk serius merencanakan pembangunan yang ada di daerah,” ujar Jokowi, di acara Rapat Koordinasi Nasional Penanganan Bencana 2019, Sabtu (2/2/2019).

Jokowi mengungkapkan bahwa ini merupakan forum strategis. Pertama, perencanaan perancangan pembangunan di daerah harus berada dalam kendali RI. Hal tersebut lantaran masyarakat harus sadar bahwa negara  Indonesia berada di dalam garis cincin api. Selain itu, ia juga mengatakan perancangan pembangunan harus berlandaskan aspek minimailisir resiko. Mantan Walikota Solo itu juga mengingatkan kepada Bapeda untuk selalu menghimbau masyarakat untuk patuh terhadap kebijakan yang berlaku.

Hal tersebut, lantaran bencana alam itu selalu terus berulang dan kemungkinan besar yang terdampak di daerah yang sama. Ia menjelaskan terjadinya bencana selalu ada siklusnya, maka Jokowi pun memberikan larangan kepada masyarakat khususnya di daerah pesisir pantai, agar tidak membangun bangunan yang berdekatan dengan bibir pantai.

“Bencana terus berulang, tempatnya situ-situ saja. Di Nusa Temggara Barat tahun 1978 ada. Di Palu tahun 1978 atau 1979 ada. Ada siklusnya. Sehingga ada ruang ada tempat-tempat yang memang berbahaya jangan boleh mendirikan bangunan di area dekat pantai. Untuk itu masyarakat juga harus patuh demi keselamatan,” ujar presiden RI tersebut.

Selain itu, presiden ke-7 ini juga menganjurkan untuk selalu melibatkan pakar-pakar akademisi guna meneliti tempat yang rawan terkena bencana. Hal itu ia katakan, dengan harapan supaya Indonesia mampu menguramg dampak terjadinya bencana. Selain itu, Jokowi mencotohkan misalnya ada kejadian megatrush, masyarakat tahu bahwa ada pergerseran lempengan. Melalui pakar-pakar yang berbicara, informasi bisa disosialisasikan langsung ke masyarakat.

Dalam hal ini, Jokowi mencontohkan negara Jepang yang tingkat ketanggapannya terhadap bencana cenderung tinggi. Ia mengapresiasi antisipasi langkah pemerintah Jepang dalam meminimalisir adanya terjadinya gempa. Hal tersebut, membuat Jokowi ingin mulai melakukan edukasi  ke seluruh masyarakat Indonesia dari semua kalangan. Ia juga menyarakan, edukasi tersebut tak hanya dilakukan sekali atau dua kali, melainkan digalakkan terus dan sifatnya berskala.

“Lakukan simulasi laithan penahanan bencana secara berkala dam teratur untuk mengingatkan masyarakat kita secara berkesinambubgan sampai tingkat paling bawah RT RW,  sehingga masyarakat kita siap menghadapi bencana,” tutup Jokowi.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana