Kenali Ikke, Wanita dengan Perjuangan Melawan Kanker Laring Karena Asap Rokok

Ikke Widayanti, seorang wanita penderita kanker laring lantaran menjadi perokok pasif di sekitar lingkungan kerjanya. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Merokok tak hanya berbahaya bagi para penikmat dan pengisap, tetapi juga orang sekeliling yang terpapar oleh asap berbahan baku tembakau. Risiko terkena berbagai penyakit pun tak sedikit, tak hanya bagi perokok aktif saja, perokok pasif pun yang tak mengonsumsi rokok juga berisiko terkena penyakit, bahkan dapat dikatakan lebih rentan.

Seperti yang dialami oleh Ikke Widayanti (42) yang telah mendedikasikan dirinya untuk bekerja di salah satu restoran di Surabaya selama 10 tahun lamanya. Dengan waktu 10 tahun ia mengaku sering terpapar oleh asap rokok, baik oleh para pengunjung maupun karyawan laki-laki yang mayoritas adalah perokok dan masih belum ada peraturan larangan merokok.

“Dan pada waktu itu larangan untuk merokok karena belum seperti sekarang ini. Saya dulu juga sering mengingatkan teman-teman kalau asap rokoknya sangat mengganggu,” kata Ikke saat dihubungi reporter Sureplus.id via telepon, Kamis (31/1/2019).

Gejala awal yang dirasakan oleh Ikke pun seperti batuk pada umumnya, namun lama kelamaan ia merasa suaranya semakin hilang. “Awalnya saya kira mungkin cuma gejala batuk biasa dan saya sudah berobat namun tak kunjung sembuh. Dan makin hari makin sesak nafas saya, akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Setelah diperiksa, saya di diagnosa kanker laring,” ujarnya.

Saat itu pula Ikke dianjurkan untuk operasi, dan ditunjukkan oleh sang dokter jika tenggorokannya terpaksa harus dilubangi. Untuk pernafasannya sendiri pun juga melalui lubang di leher, sehingga hidung yang digunakan untuk bernafas tidak berfungsi bagi Ikke.

“Karena saya takut dan belum siap pada waktu itu, saya tidak berani di operasi. Karena risikonya dan yang dipikirkan saya, kalau seperti itu bagaimana nantinya, saya tidak bisa bekerja lagi dong?,” ceritanya.

Rupanya Ikke juga pernah berusaha melalui pengobatan alternatif ke sana kemari, dan apa yang dikatakan oleh semua orang ia lakukan demi kesembuhan. Sayangnya pengorbanannya tidak membuahkan hasil, dan pada akhirnya kondisi kesehatannya sangat memburuk dan dengan terpaksa diangkatlah pita suaranya.

“Sedih ya orang nggak punya pita suara? Sudah nggak bisa komunikasi sama orang banyak, nggak bisa kerja lagi,” keluh Ikke.

Namun kini dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Surabaya, Ikke berharap agar cepat di sahkan Perda yang baru dengan ditambahnya menjadi 8 kawasan. Hal ini supaya generasi muda ke depannya tidak ada yang sakit seperti saya, karena asap rokok, padahal kita bukan perokok dan banyak generasi sehat ke depannya.

“Agar segera di sahkan Perda KTR di 8 titik tersebut, biar mengurangi jumlah orang sakit. Otomatis angka pengeluaran untuk BPJS kan berkurang juga. Kita kan nggak melarang orang untuk merokok karena hak manusia masing-masing. Mau sakit silakan, pilih sehat silakan. Tapi kalau mau sakit jangan ajak-ajak orang, makanya sudah di sediakan tempat untuk yang merokok, karena orang lain juga berhak untuk sehat,” harapnya.

Sementara itu, Dwi Hari Susilo, Dokter Tiroid di RS Onkologi Surabaya mengatakan, jika rokok yang mengandung nikotin, termasuk karbon monoksida itu yang paling bahaya. “Selain membuat daya tahan tubuh, mulai rongga mulut, hidung, tenggorokan sampai paru-paru itu berkurang, sehingga lebih mudah terkena infeksi dan gampang terkena kanker,” ujarnya.

Kandungan berbahaya dari rokok yang dapat merusak tubuh, dan menyebabkan kanker, seperti kanker laring yang dialami oleh Ikke. Untuk pengobatannya pun harus segera dioperasi dan berakibat tidak dapat berbicara. “Kalau pengobatannya kanker laring itu selama masih terlokalisir itu diambil, dioperasi, diambil sebagian laringnya atau keseluruhan,” pungkasnya.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana