Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Jawa Timur Alami Penurunan

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur,Teguh Pramono saat memberikan laporan mengenai perkembangan tingkat kemiskinan Jawa Timur di gedung BPS, Selasa (15/1/2019) lalu. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, melaporkan adanya penurunan ketimpangan pengeluaran penduduk di Jawa Timur. Salah satu alat ukur yang digunakan yakni Gini Ratio, yang nilainya berkisar antara 0-1. Semakin rendah nilai Gini Ratio menunjukkan ketimpangan yang semakin rendah pula.

“Gini Ratio berdasarkan daerah tempat tinggal perkotaan tercatat sebesar 0,375 pada September 2018. Penurunan ini terjadi sebsar 0,012 persen dibandingkan Maret 2018 yang sebesar 0,387,” ungkap Kepala BPS Jatim, Tegus Pramono saat dikonfirmasi di gedung BPS, Jumat (18/1/2019).

Teguh mengatakan, dari data yang dihimpun oleh Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), tercatat Gini Ratio di daerah pedesaan sebesar 0,322. Angka ini turun sebesar 0,05 poin, dibandingkan Gini Ratio Maret 2018 yang jumlahny sebesar 0,327 poin.

Selain Gini Ratio, alat ukur yang digunakan yakni persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah, atau biasa dikenal dengan ukuran ketimpangan Bank Dunia. Berdasarkan pengukuran ini, pada September 2018 persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 17,39 persen, yang berarti Provinisi Jawa Timur berada pada kategori dengan ketimpangan terendah.

“Pengukuran ketimpangan Bank Dunia terbagi jadi tiga kategori. Yang pertama ketimpangan tinggi, yaitu jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah angkanya dibawah 12 persen. Kedua tingkat ketimpangan sedang, angkanya berkisar 12-17 persen, dan ketimpangan rendah jika angkanya berada diatas 17 persen,” ujar Teguh.

Sejalan dengan informasi yang diberikan dari Gini Ratio, ukuran ketimpangan Bank Dunia pun mencatat hal sama. Ketimpangan di perkotaan hasilnya lebih parah dibandingkan dengan pedesaan. Persentase pengeluaran, pada kelompok penduduk 40 persen terbawah didaerah perkotaan pada September 2018 adalah sebesar 17,62 atau tergolong ketimpangan rendah.

“Demikian juga untuk daerah pedesaan, persentase pengeluaran kelompok 40 persen terbawah pada September 2018 adalah sebesar 20,12 persen, yang berarti berada pada kategori ketimpangan rendah,” tutup Teguh.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana