Go To Pamat, Inovasi Kreatif Peningkat Kecepatan Dalam Menghitung

Dewi Suwaibah (tengah) dan Lala Anggraini (kiri), mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surabaya,kreator media pembelajaran Go To Panda Mathematic (Go to Pamat), sarana belajar sambil bermain untuk siswa SD kelas 4. Inovasi ini dipamerkan dalam acara kuliah umum yang diselenggarakan di gedung At-Tauhid.FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Mahasiswi Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya kembali membuat inovasi kreatif dalam perhitungan matematika. Go To Pamat (Panda Mathematic) namanya, media pembelajaran sekaligus permainan matematika untuk siswa SD kelas 4. Inovasi kreatif ini, merupakan salah satu dari tiga media yang ditampilkan pada kuliah umum beberapa waktu yang lalu.

“Ini merupakan alat evaluasi bagi guru nantinya, setelah melakukan proses pembelajaran di kelas. Sedangkan untuk siswanya, media ini bisa melatih dan mengetahui tingkat kecepatan siswa dalam mengerjakan soal perhitungan matematika,” ungkap  Dewi Suwaibah, kreator media pembelajaran Go To Pamat saat diwawancarai reporter Sureplus.id di gedung At-Tauhid, Rabu (16/1/2019).

Permainan ini didasari oleh pengalamannya saat menjadi pendidik di salah satu sekolah. Ia saat itu mengajarkan siswa SD, menggunakan soal pengerjaan standart. Ia mengklaim bahwa siswa cepat bosan dan bahkan tidak menyelesaikan semua soal yang diberikan. Akhirnya, ia bersama temannya bernama Lala Anggraini memutuskan untuk membuat media pembelajaran, yang sekaligus bisa dimainkan untuk menunjang kemampuan menghitung anak-anak.

Media ini berasal dari limbah kardus, kabel dan dilengkapi dengan pita. Kardus yang dibentuk persegi panjang, dengan diberikan lubang untuk pemasangan 4 tiang sepanjang kurang lebih 30 cm. Tiang-tiang tersebut, di masukkan lingkaran yang terbuat dari limbah kabel yang terbungkus pita. Tak lupa pula, hiasan panda sedang memanjat tiang yang bentuknya lebih mirip bambu tersebut.

“Cara kerja alat tersebut yakni siswa akan terbagi menjadi dua tim. Masing-masing dari timnya terdiri dari 2 orang, dimana satu orang bertugas untuk mengerjakan soal dan yang lain tim koreksi dari lawan,” ucap Dewi

Tipe soal permainan ini dibedakan oleh tingkat kesulitan yang dipilih oleh pemain. Untuk tipe soal mudah, hanya ada perhitungan dasar matematika, sedangkan untuk tipe sulit sudah masuk pada soal cerita, bagaimana matematika diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Siswa yang berhasil menyelesaikan satu soal, memiliki kesempatan untuk memindahkan lempengan ke tiang selanjutnya. Lempengan tersebut akan tersusun pada tugu akhir atau bisa desebut tugu panda. Ukuran lempengan juga disesuaikan dengan tingkat kesulitan. Pemenang ditentukan dari pemain yang lebih dulu menyusun lempengan pada tugu panda.

“Pembuatannya memakan waktu kurang lebih satu bulan. Dan kami tidak mengeluarkan banyak sekali budget, karena dari awal memang kami memanfaatkan limbah,” ujar Dewi.

Dewi berdalih, biasanya ketika membuat suatu media pembelajaran tidak bisa hanya di pamerkan dan sekedar menjadi pajangan, namun harus di terapkan pada sekolah-sekolah.  Kendati demikian, Go To Pamat saat ini masih menjadi sebuah alat evaluasi, setelah materi yang diberikan oleh para guru matematika.

“Karena ini masih awal kita masih membuat dua. Kedepannya nanti, kami berharap bisa terjun ke sekolah-sekolah SD, dengan membawa jumlah Go To Pamat yang lebih banyak lagi,” tutup Dewi.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana