Penurunan Angka Kemiskinan di Jawa Timur Berkurang Lebih dari 40 Ribu Jiwa

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono saat memberikan laporan mengenai perkembangan tingkat kemiskinan Jawa Timur di gedung BPS, Selasa (15/1/2019). FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Kemiskinan di Jawa Timur diklaim menurun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur. Menurut data yang dihimpun, pada bulan Desember 2018, jumlah penduduk miskin di Jawa Timur mencapai 4.292,15 ribu jiwa (10,85 persen), berkurang sebesar 40,44 ribu jiwa dibandingkan dengan kondisi Maret 2018 yang sebesar 4.332,95 ribu jiwa (10,98 persen).

“Konsep kemiskinan yang digunakan BPS adalah “basic need approach”. Jadi kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan,” ungkap Teguh Pramono, kepala BPS Jawa Timur saat jumpa pers di gedung BPS, Selasa (15/1/2019).

Teguh mengungkapkan, yang dimaksudkan kebutuhan dasar makanan adalah pengeluaran untuk memenuhi konsumsi 2100 kkal perkapita perhari (diwakili paket komoditi kebutuhan dasar makanan  sebanyak 52 jenis komoditi). Sedangkan kebutuhan dasar non makanan, yakni kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan dan lainnya (diwakili 51 jenis komoditi non makanan di perkotaan dan 47 jenis komoditi non-makanan di pedesaan).

Secara umum, pada periode Maret 2011 hingga September 2018 tingkat kemiskinan di Jawa Timur mengalami penurunan, kecuali pada September 2013 dan Maret 2015. Peningkatan angka kemiskinan di September 2013 dan Maret 2015 tersebut, dilatari kenaikan harga barang pokok sebagai akibat dari kenaikan harga bahan bakar minyak.

“Kalau dilihat dari periode Maret sampai September 2018, persentase penduduk miskin Jawa Timur menurun sebesar 0,13 poin persen, yaitu dari 10,98 persen pada Maret menjadi 10,85 persen pada September,” ujar Teguh.

Penurunan selama satu semester tersebut, ditunjukkan dengan turunnya jumlah penduduk miskin sebesar 40,44 ribu jiwa yang semula berjumlah 4.332,59 ribu jiwa pada Maret menjadi 4.292,15 ribu jiwa pada September 2018.

Beberapa faktor terkait dengan penurunan persentase penduduk miskin selama periode Maret – September 2018 antara lain adalah terjadinya inflasi umum sebesar 0,95 persen, beberapa komoditi mengalami perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK), seperti beras gula pasir, cabe rawit, cabe merah, bawang merah dan bawang putih. Yang terakhir, yakni indeks upah buruh tanaman pangan mengalami kenaikan sebesar 4,20 persen.

“Ditinjau secara daerah kota dan desa, selama periode Maret hingga September 2018 penurunan persentase penduduk miskin terjadi di perkotaan (0,08 poin persen) dan di pedesaan (0,09 persen),” tutup Teguh.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana