Kenalkan Produk Lokal Kota Pahlawan Lewat Toko Syafrida

Berbagai macam produk jajanan Syafrida yang dijual di toko Syafrida di jalan Ngagel. Produk tersebut meliputi kacang-kacangan, kerupuk, keripik, dan 12 jajanan lainnya. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Makanan ringan atau jajanan lokal daerah Surabaya telah banyak lahir dari berbagai usia. Namun tidak bagi produk Syafrida, yang menjual berbagai jajanan buatan rumah di toko Syafrida dan terletak di jalan Ngagel. Jajanan ini telah lahir sejak tahun 1991, namun tetap menunjukkan eksistensi yang cukup populer di kalangan masyarakat kota pahlawan, terutama lewat kehadiran toko Syafrida yang berdiri pada tahun 2011.

“Khusus produk Syafrida, showroom-nya yang disini baru pertama kali, karena sebelum adanya toko ini, Syafrida dijualkan ke berbagai supermarket,” ujar Herni Putri, pengelola toko yang menjabat sebagai retail dan marketing online, saat ditemui reporter Sureplus.id di tokonya, Rabu (9/1/2019).

Produksi unggulan Syafrida merupakan mente, rengginang udang dan mlinjo tempe. Produk lainnya yakni kerupuk tempe, jagung mekar pedas dan kerupuk ikan serta dua belas macam produk buatan sendiri. Selain itu, toko Syafrida juga membeli poduk dari beberapa pabrik untuk di repacking dan dijualkan.

Umi mengungkapkan, price list di toko Syafrida termasuk lebih murah dibandingkan dengan produknya yang didistribusikan ke supermarket. Untuk harganya sendiri, produk kacang-kacangan Syrafrida berukuran kecil dipatok harga dari Rp.7000,- hingga Rp.15.000,-. Sedangkan ukuran besar bisa mencapai Rp.20.000,- ke atas. Selain itu, produk kerupuk diberi harga Rp.15.000,- hingga Rp.20.000,-.

“Untuk yang paling mahal mente. Harganya Rp.50.000,- hingga Rp.100.000,- per kemasan. Jadi semua jajanan kita kemasannya rata-rata 200 sampai 400 gram. Kita order dari rumah produksi, dan langsung kita jualkan disini dengan harga home industrinya,” ucap Herni.

Pengunjung di toko ini beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan. Herni mengatakan, bahwa kedatangan pembeli paling banyak yakni saat lebaran. Namun, karena saat ini pembeli mayoritas menggunakan gadget, akhirnya Herni memutuskan untuk menggecarkan penjualan di dunia daring juga. Kalaupun ada pembeli yang datang ke toko, para pembeli tersebut berarti telah mengetahui adanya toko Syafrida selain di supermarket.

Untuk sistematika pengiriman, umumnya Herni menggunakan jasa pengiriman untuk jarak yang jauh, dan mengirimkan pegawainya untuk mengatarkan pesanan jika dekat dengan toko. Khusus pengiriman keluar Surabaya, Syafrida menggunakan jasa pengantar seperti JNE, Tiki dan sebagainya.

“Produk Syafrida ini juga mencapai seluruh supermarket di Indonesia, karena telah berskala nasional. Penjualan paling banyak yakni ke DKI Jakarta. Selain itu pemesanan di seluruh pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan oleh toko milik pribadi. Permintaan pembelian, dari Indonesia bagian barat dan timur juga tidak bisa dibilang banyak,” ujar wanita berkerudung ini.

Herni menjelaskan, pengiriman juga pernah mencapai luar negeri. Namun, pemesan bukan penduduk sana melainkan masyarakat Indonesia yang tinggal disana, dan menjualkan camilan-camilan khas Indonesia. Pengiriman paling sering, yakni ke negara Taiwan dan Hongkong tanpa mengalami kesulitan karena memiliki ekspedisi sendiri.

Produk yang paling banyak diberangkatkan pada dua negara tersebut, yakni keripik buah dan mente original lantaran tidak berminyak. Jajanan tersebut dijualkan oleh para Tenaga Kerja Indonesia (TKI), yang sedang bekerja disana.

Selain itu, ia juga pernah menembus pasar Eropa, yaitu di Italia dan juga pernah di Amerika. Namun, ia mengakui bahwa pengiriman ke eropa barat dan Amerika menggunakan sistem reselling. Hal tersebut, lantaran kurangnya kepercayaan penduduk sana akan higienis dan halalnya makanan dari Indonesia dibandingkan dengan Malaysia. Selain itu, regulasi yang rumit masih menjadi batu sandungan dalam melebarkan sayap Syafrida ke Amerika dan eropa barat.

“Omset rata-rata, yang dihasilkan dari penjualan produk di toko Syafrida sebanyak lebih dari 25 juta perbulannya. Tapi, omset tertinggi yang pernah didapatkan yakni mencapai 30 juta rupiah pada momen lebaran,” ucap menantu dari founder produk Syafrida ini.

Selama berada dalam dunia penjualan, Herni juga mengungkapkan kendala yang seringkali ditemui. Hambatan yang ia kerap kali hadapi yakni terbatasnya kesediaan, harga bahan baku yang naik, dalam pembuatan produk. Selain itu, pesaing bisnis saat ini telah bermunculan di media sosial, terutama muda-mudi dengan banyaknya kreasi pada makanan.

Selain produk Syafrida sendiri, produk-produk UKM lainnya yang juga berupa makanan ringan juga diperdagangkan di toko ini. Hal tersebut, lantaran ia ingin membantu sesama pengusaha lainnya dalam menyediakan tempat untuk memasarkan produk, tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.

Penjagaan kualitas dari produk ini juga diperhatikan dengan sangat teliti. Seperti produk yang mengalami cacat saat sampai, langsung ditukarkan oleh rumah produksi yang berada di jalan manyar. Selain itu, Herni juga selalu menghimbau pembeli akan pengiriman yang menyebabkan remuknya produk tertentu yang dipesan. Penggunaan minyak dalam produksi juga telah dikhususkan pada tiap-tiap jajanan.

“Harapannya sih, kita harus bisa lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, kita akan juga akan menciptakan produk unggulan setahun sekali. Dan untuk pemerintah, jangan banyak-banyak juga order produk luar negeri, tapi gencarkan lebih lagi produk-produk Indonesia,” tutup Heni.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana