Mengintip Sosok di Balik Besarnya Nama Rengginang Syafrida

Nur Fadil, produsen rengginang oleh-oleh khas kota pahlawan, yang telah menggeluti bisnis jajanan selama 28 tahun. Dirinya sukses membesarkan nama rengginang seorang diri, dan telah menjajaki ranah nasional dalam dunia perdagangannya. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Menggeluti usaha dagang merupakan hal yang sedang trendi saat ini. Namun, ada pula usahawan atau usahawati, yang mampu membuktikan eksistensi produk mereka tanpa tergerus zaman. Contohnya Nur Fadila (66), pendiri usaha rengginang bernama “Syafrida”, yang telah sukses menggeluti bisnis oleh-oleh khas Surabaya, selama 28 tahun.

“Istilahnya orang Jawa itu gak mudah ngguling. Saya pertama kali bikin produk itu kacang mente, yang saya kembangkan jadi produk tempe sama jajanan lain,” ujar Nur Fadila, saat di temui di rumah produksinya, Selasa (8/1/2019).

Usaha yang saat ia jalani, bermula saat duduk di bangku SMA pada tahun 1991. Diumurnya yang masih muda waktu itu, ia melihat peluang bisnis lewat jajanan kerupuk yang diproduksi dari orang tuanya. Dari sanalah, kemudian ia berusaha membuat jajanan buatannya sendiri menggunakan bahan-bahan yang tersedia.

Seiring berjalannya waktu, ia mendistribusikan jajanannya tersebut ke beberapa toko di kota Surabaya. Sejak saat itulah, jajanannya kini telah menjajaki ranah daerah lokal. Produknya pun telah memasuki seluruh minimarket, supermarket dan mall besar di kota pahlawan. Namun, lantaran dagangannya yang sangat diminati, ia memutuskan untuk mendirikan toko pusat yang berada jalan Ngagel Surabaya.

Semakin lama dan semakin dikenal, rengginang-nya pun menjalar ke berbagai pasat modern di luar kota, dan bahkan luar pulau hingga naik statusnya menjadi produk nasional. Hasil jerih payahnya berbuah manis, lantaran saat ini ia telah memiliki enam belas pegawai, yang mayoritas berasal dari luar Surabaya.

“Saya dulu bangun dan sampai sekarang mengelola ini sendirian. Karena, mulai dulu saya membangun, tidak ada namanya fasilitas seperti sekarang. Saya terpaksa harus mandiri dan syukur bisa sampai sekarang,” ujar wanita asli Surabaya tersebut.

Ibu dari tiga anak ini, mempunyai prinsip yang unik dan sederhana dalam berbisnis. Ia mengatakan, tidak perlu muluk-muluk yang penting cukup untuk memenuhi nafkah keluarga. Hal itu terbukti, ketika suaminya telah meninggal, ia dibantu oleh ketiga anaknya dalam mengelola roda bisnis rengginang ini.

“Pokoknya penghasilan cukup untuk biaya hidup sehari-hari, juga buat kesejahteraan karyawan. Saya juga orang kecil, makanya saya tidak bisa muluk-muluk,” ucapnya

Ia mengakui, pernah mengikuti pelatihan dan pameran yang diadakan oleh pemerintah kota Surabaya. Dari situlah, nama rengginangnya melejit hingga luar pulau. Alhasil, berkat kerja kerasnya kini ia telah memasarkan produknya dari di seluruh supermarket dari Sabang sampai Marauke.

Tak selalu mulus, ia kerap kali menjumpai beberapa kendala seperti Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang maksimal, hingga ketidak tersediaan bahan baku produknya tersebut. Namun, pedagang yang telah senior ini mengatakan selalu ada cara untuk menghadapi problematika produksinya.

Pun wanita berkerudung ini telah berhasil menguliahkan ketiga anaknya. Saat ini, ketiga buah hatinya tesebut fokus membantu sang ibu untuk mengurus distribusi, maupun mengelola produk dan berjalannya pemasukan.

“Semoga usaha saya ini bisa saya wariskan pada anak cucu saya kelak, karena usaha inilah yang telah membangun keluarga kita. Dam kalau bisa, kita juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat juga,” tutup Nur Fadila.[DEWID WIRATAMA/DM]

Editor: Dony Maulana