Lorjuk Crispy Sayna, Camilan Lokal dengan Kadar Protein Tinggi

Pemasaran lorjuk crispy Sayna buatan Ana Nurul Aisatul Hasanah telah menjangkau wilayah Surabaya dan Malang. FOTO: SUREPLUS/AGUS HIDAYAT

BANGKALAN-SUREPLUS: Memanfaatkan sumber daya alam di sekitar pantai bisa mendatangkan nilai ekonomis. Salah satunya dengan mengolah kerang bambu menjadi produk camilan. Lorjuk crispy Sayna adalah bukti olahan jenis kerang air laut. Dalam bahasa Madura, lorjuk adalah sebutan untuk kerang bambu.

Camilan lorjuk crispy Sayna diproduksi Ana Nurul Aisatul Hasanah (32) dari salah satu sudut Dusun Mandala, Desa Tlangoh, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan, Madura. Usaha yang belum genap setahun dijalankan ini telah merambah wilayah pemasaran hingga Surabaya dan Malang. Sedang untuk dalam kota, lorjuk crispy Sayna bisa dijumpai di Rumah Batik Attaya, Rumah UMKM Jokotole Collection, serta sekretariat UMKM Kuda Terbang.

“Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat lorjuk crispy sederhana. Selain lorjuk sebagai bahan pokok, ada pula tepung terigu, bawang putih, garam, serta penyedap rasa. Proses pembuatannya mudah, tak beda dengan olahan crispy lainnya. Bedanya hanya pada perlakuan bahan pokok,” ujar Ana kepada Sureplus.id, Senin (7/1/2019).

Lorjuk yang akan dibuat crispy terlebih dulu dikukus selama 10 menit agar memudahkan pengupasan atau pemisahan cangkang dan isi. Proses berikutnya lorjuk diberi bumbu sesuai rasa, lalu dilumuri tepung, dan siap digoreng. Lorjuk crispy Sayna buatan Ana tersedia hanya dua rasa, original dan pedas. Tiap kemasan dengan berat bersih 105 gram dijual seharga Rp.25.000. Dikatakan Ana, dari kedua rasa tersebut konsumen lebih menyukai rasa pedas.

“Agar lebih menarik konsumen, saya akan menambah varian rasa. Selain original dan pedas, saya akan coba tawarkan rasa keju, barbeque, rumput laut, jagung, dan rasa lainnya. Mudah-mudahan bisa terwujud dalam waktu tak lama lagi,” harap ibu dari dua putri ini saat menggelar produknya di sebuah toko yang menjual bahan kue yang baru diresmikan.

Untuk mendapatkan lorjuk, Ana harus menempuh perjalanan jauh menuju Kecamatan Modung, Bangkalan. Setidaknya ada tiga kecamatan yang harus dilewati sebelum sampai ke tujuan. Ia membeli langsung dalam jumlah banyak ke masyarakat yang sehari-hari bekerja sebagai pencari lorjuk.

“Pembuatan lorjuk crispy saya lakukan tiap tiga hari sekali sebanyak 10 kilogram. Jika dikemas akan menjadi 100 kemasan. Jumlah produksi akan bertambah manakala ada permintaan dari tempat penjualan di kedua kota (Surabaya dan Malang),” terang Ana.

Tubuh lorjuk berukuran kecil, sekitar 2-3 inci, memanjang serta berbentuk runcing di salah satu ujungnya. Lorjuk hidup di habitat pesisir pantai yang berlumpur. Hewan laut ini bertahan hidup dengan cara bersembunyi secara vertikal di pasir dan menampakkan diri saat air laut surut. Tak semua pantai di Madura menjadi habitat lorjuk. Kerang jenis ini hanya bisa ditemukan di sepanjang perairan pantai yang datar dan landai.

Proses penangkapan lorjuk terbilang cukup sulit, serta harus menunggu hingga air laut surut. Pencari lorjuk biasanya menggunakan linggis untuk menggali pasir tempat lorjuk berlindung. Teknik lain yang dipakai agar lorjuk muncul ke permukaan adalah dengan menaburkan garam, air sabun, ataupun batu gamping.

“Meski berukuran kecil, kandungan protein dan nutrisi yang ada pada lorjuk tidak kalah dengan jenis kerang lain yang ditemukan di wilayah pantai Indonesia. Di Madura, lorjuk telah dioalah menjadi berbagai produk makanan dan camilan,” ungkap Ana. (AGUS HIDAYAT/DM)

Editor: Dony Maulana