Bahasa Sebagai Pendeteksi Depresi

Ilustrasi. FOTO: Health Spectator

Mendung memang tidak berarti selalu akan turun hujan. Akan tetapi setiap mendung datang, sangat jarang hujan tidak turun. Karenanya penanda selalu penting, tak bisa diabaikan. Begitupun dengan depresi. Ketika mobilitas dan kompetensi hidup sedemikian tinggi, depresi menjadi bagian yang nyaris tak terhindarkan dalam kehidupan masyarakat modern.

Adakah penanda yang dapat dijadikan acuan bahwa seseorang sedang mengalami deperesi? Ada.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada jurnal Clinical Psychological Science baru-baru ini, menyebutkan, kita bisa mengetahui apakah seseorang mengidap depresi atau tidak melalui bahasa yang digunakan.

Para peneliti menggunakan analisa teks yang dikomputerisasi untuk melihat bank data besar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana cara bicara seseorang bisa berbeda ketika mengalami depresi. Tak hanya itu, para peneliti juga mempelajari esei pribadi dan buku harian untuk menemukan perbedaan yang jelas antara pengidap depresi dan yang tidak.

Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa ada perbedaan menyolok antara orang-orang yang mengalami depresi dengan yang tidak.

Diksi

Pengidap depresi lebih sering menggunakan kata ganti ‘saya’, ‘aku’, dan ‘sendiri’, dibanding ‘dia’ atau ‘mereka’. Hal ini menandakan kurangnya koneksi dengan orang lain. Dengan kata lain, ada perasaan terisolasi dari lingkungan sosial yang dominan dalam diri penderita depresi. Gaya bahasa tersebut juga menunjukkan bahwa mereka memiliki kesadaran diri dan lebih fokus terhadap pikiran mereka masing-masing. Penggunaan kata ganti pertama itu menjadi indikator depresi yang memang bisa diandalkan.

Kata sifat negatif

Kata sifat yang bernada negatif biasanya sering diucapkan pengidap depresi. Mereka cenderung menggunakan kata yang mengarah ke emosionalitas negatif, seperti ‘menyedihkan’ dan ‘kesepian’. Para peneliti menduga, ini berkaitan dengan perasaan yang mereka alami.

Kata absolut

Saat seseorang mengalami depresi, cenderung menggunakan bahasa absolut. Artinya, kata yang diucapkan bermakna sepenuhnya atau tidak sama sekali, seperti ‘selalu’, ‘sepenuhnya’, ‘selengkapnya’, ‘tidak sama sekali’, dan ‘tidak pernah’. Ini menunjukkan pada kurangnya perspektif.

Ketika mengalami depresi, pikiran memang mudah terkontaminasi dengan hal-hal negatif yang tentu saja tercermin dari bahasa yang digunakan. Akan tetapi, meski demikian, tidak seharusnya kita mendiagnosis seseorang hanya dari gaya bicaranya. Jika Anda merasa seseorang bermasalah dengan kesehatan mentalnya, ajak ia berbicara tentang apa yang sedang dirasakan sebelum mengambil kesimpulan. (ff)