BPS Berikan Laporan Adanya Kenaikan Nilai Tukar Petani Jawa Timur Akhir 2018

ILUSTRASI: Menurut data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, NTP pada bulan Desember 2018 ini naik sebesar 0,26 persen dari 108,33 menjadi 106,81. FOTO: SUREPLUS/DOK

SURABAYA-SUREPLUS: Salah satu indikator, untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani di daerah pedesaan yakni indikator Nilai Tukar Petani (NTP). Menurut data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, NTP pada bulan Desember 2018 ini naik sebesar 0,26 persen dari 108,33 menjadi 106,81.

“Penyebabnya, indeks harga yang diterima petani naik lebih tinggi dibanding dengan kenaikan indeks harga yang dibayar petani ” ungkap Teguh Pramono, saat diwawancarai reporter Sureplus.id via Telepon, Sabtu ( 5/1/2019).

Ia melanjutkan, indeks harga yang diterima petani (it) naik sebesar 1,18 persen, sedangkan indeks yang dibayarkan petani (ib) naik sebesar 0,92 persen. Dilihat dari perkembangan sub sektor pada bulan Desember 2018, dua sub sektor pertanian mengalami kenaikan NTP. Kedua sub sektor, yang mengalami kenaikan NTP ialah sub sektor Tanaman Pangan sebesar 0,86 persen dari 111,65 menjadi 112, 61. Kenaikan NTP juga terjadi di sub sektor Holtikultura, sebesar 0,55 persen dari 99,90 menjadi 100,44.

Berdasarkan data bulan ke bulan, indeks harga yang diterima petani bulan Desember naik sebesar 1,18 persen, dibanding bulan November 2018 yakni dari 147,22 menjadi 148,95. Sepuluh komoditas utama, yang menyebabkan kenaikan indeks harga yang diterima petani bulan Desember 2018, adalah gabah, buah jeruk, jagung, sapi potong,  bawang merah, buah mangga, ikan kuniran, nilam, biji jambu mete dan ikan nila.

“Dan untuk bulan Desember 2018, indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,92 persen dibanding November 2018, yaitu dari 135,90 menjadi 137,15,” ujar Teguh

Tegus menjelaskan, kenaikan ini disebabkan oleh naiknya indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi pedesaan) sebesar 1,10 persen, dan indeks harga biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPM) naik sebesar 0,43 persen. Macam-macam komoditas pendorong naiknya harga yang dibayar petani, adalah tomat, sayur, bawang merah, telur ayam ras, bibit ayam ras pedaging, beras, jagung, pipilan, bekatul, benih bandeng, benih udang, dan daging ayam ras.

“Ini menunjukkan, bahwa rata-rata nilai tukar produk pertanian terhadap barang dan jasa konsumsi rumah tangga petani dan biaya produksi tahun 2018, secara umum masih lebih tinggi dibanding tahun lalu,” tutup Teguh.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana