Akademisi Perbanas Prediksi Fintech Akan Melejit di Tahun 2019

ILUSTRASI: Financial Technology (Fintech). FOTO: Entrepreneur.com

SURBAYA-SUREPLUS: Perkembangan teknologi membuat banyak perusahaan maupun industri tidak bisa menutup mata. Salah satu industri yang tengah marak berkembang adalah Financial Technology (Fintech) yang sangat membantu dalam hal keuangan. Di tahun 2019 mendatang, Fintech ini akan terus berkembang mengikuti perkembangan zamannya. Hal ini disampaikan oleh Abu Amar Fauzi, Dosen Prodi Manajemen STIE Perbanas Surabaya.

“Perkembangan teknologi tidak bisa dihindari lagi.  Kita harus bisa beradaptasi mau tidak mau, karena ke depannya, Fintech ini akan lebih berkembang dan jangan sampai kita tertinggal,” ucap Amar saat dihubungi reporter Sureplus.id lewat ponsel, Jumat (4/1/2019).

Kehadiran Fintech ini, menurut Amar justru membantu industri keuangan semakin praktis, dan mempunyai banyak manfaat. Salah satunya yakni membantu masyarakat untuk melakukan transaksi keuangan.

Bahkan di Indonesia, perkembangan Fintech ini terbilang pesat sekali. Hal itu terbukti dari penggunaan smartphone masyarakat Indonesia berdasarkan survei yang dilakulan oleh i-marketer pada tahun 2015, yang mengatakan jika Indonesia merupakan negara terbesar ketiga setelah Cina dan India.

“Fintech tidak akan membunuh industri perbankan. Melainkan mereka akan saling berkolaborasi dan saling membantu,” kata Amar.

Disamping itu juga Amar mencontohkan untuk kebutuhan konsumtif, kalau ke bank hutang sebanyak Rp.500.000,- masih sulit karena harus langsung ke tempat. Dengan adanya Fintech, proses akan jadi lebih mudah karena terintegrasi dengan aplikasi. Selain itu, Fintech juga dapat menghimpun dana masyarakat untuk proyek tertentu.

“Kalau pengaplikasian sederhananya, seperti jadi kalau ada tetangga kita yang kekurangan atau butuh dana, kita tinggal foto dan  kasih keterangan buat mengumpulkan dana dari masyarakat,” tambahnya.

Namun, perkembangan teknologi ini juga harus dibarengi dengan tingkat keamanan yang tinggi. Hl tersebut lantaran, transakasi digital di era sekarang, apalagi Fintech masih merupakan hal baru di Indonesia. Akan ada celah bagi para oknum tindak kejahatan, untuk mencari celah maupun kelemahan sistem demi keuntungan sendiri. Ditambah, dengan banyak kasus tentang pinjaman online yang justru merugikan masyarakat, karena tidak transparan.

Oleh sebab itu, dirinya mengimbau masyarakat agar senantiasa berhati-hati setiap melakukan transaksi. Selain itu, Amar menganjurkan, sebelum masyarakat menggunakan fasilitas Fintech, mereka bisa memeriksa di website Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dulu. Hal tersebut, dikarenakan perusahaan-perusahaan yang menggunakan Fintech sudah terverifikasi oleh OJK.

“Untuk masyarakat jangan mudah terpancing dengan penawaran-penawaran murah dan kemudahan akses, karena itu bisa mengarah pada tindak penipuan,” tutup Amar.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana