Sukses Sajikan Nasi Kepal Tanpa Penyedap Instant

Kuliner sego kepel Surabaya karya pemudi kota pahlawan, berbentuk bulat seperti hamburger berisikan daging ayam. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Masyarakat di Surabaya mungkin tidak lagi asing dengan “monosodium glutamat (MSG)” dalam makanan. Bagi kaum ibu khususnya, MSG digunakan sebagai penyedap dan penguat cita rasa dalam makanan, tanpa memikirkan efek samping daripada penyedap rasa. Namun MSG tidak berlaku pada karya kuliner Sego Kepel milik Eka Pratiwi. Kuliner unik yang satu ini, bertempat di Jalan Gubeng Airlangga II No. 12, outlet dan merupakan sebuah outlet.

“Seperti namanya yaitu Sego Kepel, sajiannya berbentuk nasi yang dipadatkan atau dikepel. Nasi punel beraroma wangi yang panas uapnya masih mengepul, dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk bulat. Kemudian dilapisi dengan potongan dadu daging ayam yang diolah dengan bumbu blackpaper tanpa penyedap (MSG),” ungkap Eka saat ditemui reporter Sureplus.id di outletnya.

Cita rasa yang pas antara rasa lada hitam yang nendang, daging ayam yang empuk dengan cita rasa pas di lidah. Disajikan hangat-hangat bersamaan dengan semerbak aroma bumbu blackpaper yang sedap. Sedangkan, untuk daging ayamnya sendiri diolah dengan resep khusus tanpa penyedap, itulah yang membuatnya lebih enak dan tahan lama.

Berawal dari mata kuliah Kewirausahan pada tahun 2013 lalu yang mengharuskan Eka dan keempat kawan lainnya membuat suatu produk yang menjual. Karena kecintaanya terhadap kuliner khusunya ayam, Eka ingin membuat suatu produk yang praktis nan menghasilkan keuntungan.

“Kebetulan saya dan keempat teman saya hobby makan ayam sih, karena makan ayam tuh udah keseharian banget. Tapi disini kita kemas ke sesuatu yang berbeda,” tutur gadis berjilbab ini.

Tak berhenti disitu saja, mahasiswi lulusan Sistem Informasi ini menyajikan Sego Kepel isian ayam, yang diolah dalam 3 varian layaknya rasa ayam di restaurant pada umumnya. Yaitu, Blackpaper, Teriyaki, dan Barbeque.

Ini juga dapat dilihat dari 3 icon sego kepel yang mewakili dari masing masing varian rasa. Yakni, Teri untuk rasa teriyaki yang manis dan tak pedas, Pepe untuk rasa blackpaper yang pedasnya mantap dilidah, serta Kyu untuk rasa barbeque yang asin dan gurihnya selangit.

Berbeda dengan burger pada umumnya yang dibanderol dengan harga yang lumayan mahal. Makanan yang menyerupai burger ini harganya relatif lebih murah sehingga tidak perlu khawatir akan menguras kantong. Satu kepelnya dihargai hanya Rp 7.000 saja pada semua variannya.

Berbagai lintas generasi menggemari makanan mungil ini, mulai dari orang tua, mahasiswa hingga anak- anak. “Karena target kita juga termasuk anak-anak, kita pengen bikin sesuatu yang lucu. Dan dari temen – temen sego kepel sendiri ada yang emang hobinya design grafis gitu,” ujar Eka.

Seiring berjalannya waktu, usaha yang digeluti Eka ini meluas hingga memasuki kantin-kantin sekolah. Bahkan ada salah satu sekolah di Surabaya yang menjadi langganan tetap Sego Kepel.

“Salah satu sekolah, hampir setiap bulan rutin pesen ke kita. Biasanya mereka pesen karena ada acara ulang tahun temen sekelas gitu. Udah kayak jadi langganan tetap kita lah sampai sekarang,” lanjut anak pertama dari dua bersaudara ini.

Outlet yang buka setiap hari Senin hingga Sabtu ini dulunya hanya beroperasi di dalam kampus saja, kurang lebih satu bulan ini Eka baru saja membuka outlet sego kepel nya di Jalan Gubeng Airlangga II no. 12. “Baru beberapa tahun sih kita pindah kesini, karena memang pasarnya luas,”

Hingga tahun 2018, produknya semakin dikenal khalayak dari berbagai daerah. Popularitas ini, juga didongkrak berkat keterlibatannya dalam event maupun acara kuliner di Surabaya. Dalam pembuatan variasi produk pun, tak henti-hentinya ia mencoba bereksperimen demi menemukan menu baru.

Ke depannya, Eka ingin membuat varian rasa sego kepelnya bertambah. “Kita membuat rasa sekelas restauran, tapi kita bikin dengan versi yang baru dan mudah dijangkau konsumen,” tuturnya.

Pelanggan yang pernah membeli produk tersebut, mengakui kenikmatan yang didapat pada kuliner tersebut berbeda dengan kuliner lainnya. “Aku nyoba ini makanan karena aku penasaran. Temen-temen di kampus juga rekomen ke aku yang notabene karnivora ini,” ucap Nindiana Putri, mahasiswi salah satu kampus di Surabaya sembari terkekeh. [DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana