Pak De Karwo: Jangan Sampai Bahan Baku Produksi IKM Impor

Gubernur Jawa Timur, Soekarwo saat memberikan sambutan pada acara Gathering: Industri Kreatif dan Potensi Jawa Timur, di hotel Mercure, Kamis (27/12/2018). FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengungkapkan himbauan agar Industri Kecil Menengah (IKM)  tidak menggunakan bahan baku impor. Hal tersebut, ia sampaikan setelah memberikan sambutan pada acara Gathering: Industri Kreatif dan Potensi Jawa Timur Lokomotif Nasional di hotel Mercure, Kamis (27/12/2018).

“Bahan baku itu terhadap proses produksinya, jangan sampai impor. Ini bisa menyebabkan kasus rupiah yang tidak stabil pada defisit neraca kita,” ungkap Soekarwo, saat diwawancarai wartawan Sureplus.id di hotel Mercure.

Menurutnya, rupiah akan mengalami sesak nafas berlanjut jika defisit neraca masih berjalan. Ia berpendapat, sebisa mungkin untuk bahan baku impor diganti dengan bahan baku yang ada di dalam negeri. Karena rencananya IKM akan masuk pasar internasional, fokus Indonesia yakni Agro misalkan bisa diperbesar dalam produksinya.

Sosok yang akrab disapa pak de Karwo ini menuturkan, solusi yang bisa diberikan yakni negara harus membuat pembiayaan murah, contohnya menggunakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) subsidi, meminjamkan uang pemerintah ke bank seperti yang di Jawa Timur.

“Sudah dianggarkan oleh DPRD sebanyak 400 milyar rupiah untuk IKM dan UMKM se-Jawa Timur” ujar pak de Karwo.

Defisit Neraca Perdagangan Jatim

Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Soekarwo mengenai defisit neraca perdagangan Jawa Timur, hal tersebut senada dengan data yang dibeberkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, bahwasanya defisit di Jatim merosot tajam.

“Total nilai neraca perdagangan Jawa Timur selama bulan November 2018 mengalami defisit sebesar USD 696,53 juta. Hal ini, lantaran adanya selisih perdagangan yang negatif pada sektor migas dan non migas, sehingga secara agregat menjadi defisit,” ungkap Satriyo Wibowo, saat ditemui wartawan  Sureplus.id, Kamis (27/12/2018).

Dari data yang dihimpun,berdasarkan month to month ekspor di sektor non migas mengalami defisit sebesar USD 186,84 juta, dari angka ekspor yang sebesar USD 1.503,90 dibandingkan impor yang merangkak hingga USD 1.690,74 juta (defisit USD 186,84 juta). Sementara pada sektor migas, pada bulan November 2018 mengalami defisit sebanyak USD 509,70, dengan angka ekspor USD 1.615,56 juta harus kalah dengan angka impor yakni USD 2.312 juta.

Jika dilihat secara kumulatif selama periode Januari hingga November 2018, neraca perdagangan Jawa Timur juga masih mengalami defisit sebesar USD 4,71 milyar, yaitu sektor non migas menyumbang defisit sebesar USD 1,31 milyar, dan sektor migas defisit sebanyak USD 3,40 milyar.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana