Kenangan Manis Ambon Manise

Kota Ambon terlihat dari Jembatan Merah Putih. FOTO: Raudal Tanjung Banua

Oleh Raudal Tanjung Banua
penikmat perjalanan, tinggal di Yogyakarta

Menjelang subuh  kapal motor Intim Teratai yang saya tumpangi dari Namlea, Pulau Buru, merapat di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon. Pelayaran di atas Laut Banda tersebut memakan waktu sekitar tujuh jam. Saya masih mengingat deru mesin yang perlahan dimatikan dan tali-temali diturunkan. Kelelahan terhapus oleh pemandangan cantik yang menyambut sejak masuk Teluk Ambon dengan semenanjung yang terulur di sepanjang jalur kapal.

Jejeran kaki bukit tercelup ke laut, memantulkan bayangan samar di bawah sinar bulan. Sementara di atas perbukitan, lampu dari rumah-rumah yang padat berkilauan sampai ke tepi air. Karena masih terlalu pagi, tidak semua penumpang langsung turun. Mereka tidur-tiduran di atas kapal menunggu pagi sempurna.

Tapi saya memilih berjalan kaki menyusuri kota. Dalam sepi pagi begini, yang tiba-tiba ditingkahi gerimis tipis pula, suasana sejuk-damai meresap ke dalam dada. Berjalan di lorong pertokoan, saya berdecak kagum bertemu pusat kota dengan bangunan menjulang di atas sekeping pulau karang.

Tak terbayangkan, bagaimana Pulau Ambon seluas tak lebih 803,9 km persegi tampil sebagai pusat pemerintahan dan pusat ekonomi Maluku dengan fasilitas gedung bertingkat dan infrasruktur lainnya; bukannya Pulau Seram yang melengkung lebih 17.100 km persegi, seolah menaungi Pulau Ambon dari ganasnya Laut Banda. Untuk kota yang berdiri di pulau kecil, Ambon pun termasuk luas, yakni 298,6 km persegi dengan penduduk 427.934 jiwa. Itulah takdir di bumi, besar-kecil bukan perkara, sebagaimana Banda Neira nun di selatan, hanya berupa noktah pada peta, namun menjadi titik tuju jalur rempah dalam sejarah dunia.

Tapak sepatu yang lembab membawa saya ke Masjid Raya Al Fatah, masjid terbesar di Ambon. Masjid tak hanya menampung jemaah beribadah wajib sehari-hari, tapi sekaligus pusat aktivitas sosial kemasyarakatan. Salah satu yang terpenting adalah pusat pendidikan, mulai usia dini, madrasah hingga perguruan tinggi. Pada masa konflik Ambon (maafkan, saya tak hendak mengungkit luka lama) masjid Al-Fatah menjadi tempat mengungsi dan penanganan korban. Pada masa perang dunia, masjid bersejarah ini pun menjadi target pembumihangusan oleh tentara Sekutu, namun bom yang dijatuhkan tak pernah meledak atau keluar sasaran.

Di teras yang luas, saya istirahat sejenak menunggu azan subuh dikumandangkan, sambil mencari colokan listrik untuk mences hp. Kesempatan itu saya gunakan melihat-lihat kompleks masjid yang ternyata terdiri dari dua bangunan utama. Yakni bangunan masjid lama yang sudah tua dan dibiarkan apa adanya, sebagai situs cagar budaya (heritage). Ada pun bangunan baru (tepatnya: masjid baru) dibangun di samping bangunan lama, lebih besar, tentu saja. Dari menaranya, azan subuh berkumandang dan saya segera ikut ambil bagian sebagai jemaah. Saat bersujud, tercium aroma karpet yang wangi dan tekstur yang lembut di dahi.

Selesai sholat, sambil menunggu jemputan, saya sarapan nasi kuning di tepi jalan depan masjid. Pedagangnya seorang ibu dari Madura. Dengan logat khas, ia menawari saya pilihan lauk: telur, ayam atau ikan laut. Saya pilih ikan laut. Plus segelas teh hangat di pagi yang dingin.

Pas suap pertama mencecah lidah, staf Kantor Bahasa Ambon yang saya tunggu datang setengah gegas. “Saya kontak bapak tak masuk-masuk, ee… tahunya su di sini,” kata Arie Rumihin, nama staf tersebut.

Saya jawab sambil minta maaf bahwa hp saya mati, dan saya lupa mences di kapal, sehingga baru sampai di masjid bisa saya ces dan nyalakan. Arie pun balik minta maaf bahwa ia terpaksa menjemputku dengan sepeda motor sebab mobil kantor baru bisa keluar saat jam kantor. Sopirnya juga masuk sesuai jam kantor, katanya. Tak apa, kata saya mahfum.

“Urusan jemputan su beres ini, sekarang temani beta sarapan,” saya menawari laki-laki asli Maluku Barat Daya yang berbatasan dengan Timor-Timur itu.

“Siap, Bapak!” ia pun pesan sarapan.

Jembatan Merah-Putih dan Museum Siwalima

Kerangka Paus di Museum Siwalima. FOTO: Raudal Tanjung Banua

Selesai sarapan bareng, kami segera meluncur melewati Lapangan Merdeka, Monumen Gong Perdamaian, Kantor Gubernur Maluku dan Benteng Victoria. Tapi kami tak hendak singgah karena saya menyiapkan waktu tersendiri nanti.

Kami meluncur di jalan tepi teluk, melewati Batu Merah dan Mardika, dua kampung bertetangga yang disinyalir tempat munculnya konflik Ambon beberapa tahun silam.

“Ah, semua su berlalu, Bapak, semua belajar untuk bangkit,” kata Arie Rumihin dari balik kaca helmnya. Alhamdulillah, bisik saya dalam hati.

Kami tiba di Jembatan Merah-Putih yang menghubungkan dua kawasan kota Ambon, Galala dan Rumah Tiga. Jembatan ini mulai dibangun tahun 2011 dan diresmikan tahun 2016.  Termasuk jembatan terpanjang di Indonesia Timur, melengkung indah di atas teluk yang luas. Tepat di seberang jembatan adalah kawasan Universitas Pattimura.

“Sebelum ada jembatan, teluk ini ramai sekali oleh mahasiswa yang menyeberang naik perahu, Bapak,” kata Arie bernostalgia.”Ada juga yang jatuh cinta dan ketemu jodoh di perahu,” ia lalu tertawa.

Masih menurut Arie, teluk tersebut sebenarnya tembus ke timur laut Pulau Ambon dengan melewati sebuah terusan kecil peninggalan Belanda. Tapi terusan itu kini sudah tertutup pemukiman.

Memandang Ambon dari atas Jembatan Merah-Putih alangkah menakjubkan! Mumpung masih pagi, dan jalanan masih belum ramai, kami menepi dan berhenti. Kota Ambon yang padat sampai ke atas perbukitan terlihat jelas. Sementara di tepian teluk, rumah-rumah penduduk juga sangat padat. Begitu juga gedung-gedung, hotel dan perkantoran menjulang. Kapal-kapal yang berlayar kelihatan kecil dari atas. Sebuah kapal baja tergolek karam tak jauh dari sebuah tanjung.

Setelah menikmati pemandangan beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan ke Kantor Bahasa Ambon dekat kompleks Unpatti. Saya disambut Kepala Kantor Bahasa Maluku, Dr. Asrif, sahabat yang sebelumnya sudah saya kenal di Kendari. Pertama kali yang saya “laporkan” adalah tulisan besar di pelabuhan laut Ambon yang “keminggris”: Port Ambon. Menurut Asrif, pihaknya sudah tiga kali berkirim surat kepada kepala pelabuhan untuk mengganti tulisan itu dengan Bahasa Indonesia.

“Ketiganya tak berbalas,” laki-laki Wakatobi itu memiringkan bahu.

Saya ingin menepuk bahunya, tapi urung. Akhirnya saya katakan,”Sabar, besok coba lagi, mi.” Asrif tertawa, lalu mengajak saya ke sebuah restoran ikan bakar yang baru buka tak jauh dari kantornya.

Kesempatan menyusuri kota Ambon akhirnya saya dapatkan setelah kegiatan di Kantor Bahasa Maluku selesai. Mula-mula saya minta diantar ke Museum Siwalima. Museum ini terletak di atas bukit, berdampingan dengan sebuah pura yang sama-sama menghadap pintu masuk ke Teluk Ambon.

Bukit itu dulu menjadi benteng pertahanan tentara Jepang ditandai dengan keberadaan meriam besar di terowongan. Karena posisi strategis tersebut, moncong meriam diarahkan lurus ke gerbang teluk. Tak terbayangkan, jika ada kapal musuh lewat pasti akan dibuat remuk sebab moncongnya dekat ke sasaran. Apalagi itu bukan meriam sembarangan. Ukurannya sungguh tak biasa: panjang 7,18 m dan berat 8 ton! Inilah meriam terpanjang yang pernah saya lihat di berbagai situs kolonial.

Museum Siwalima memiliki koleksi yang lengkap. Mulai benda-benda purbakala, khazanah adat dan suku bangsa, seperti perahu, aksesoris, persenjataan, juga kekayaan alam, potret kehidupan masyarakat hingga pemerintahan modern Maluku dari masa ke masa. Saya memandangi koleksi foto gubernur yang pernah memimpin Maluku, dan merasa tersirap mengetahui bahwa gubernur Maluku ketiga (1960-1965), Muhammad Padang, benar-benar keturunan orang Padang atau Minangkabau. Ayahnya tokoh pergerakan yang dibuang Belanda ke Ambon, kemudian menikahi perempuan setempat. Jadi Muhammad Padang berayah Padang beribu Ambon.

Ada juga caretaker gubernur Maluku (2013-2014) yang membuat saya tersenyum. Ia bernama Saut Situmorang yang sejenak mengingatkan saya pada dua orang lainnya di tanah air: ketua KPK di Jakarta dan seorang lagi penyair berambut gimbal di Yogyakarta.

Di ruangan lain, saya masuk ke suasana masa kolonial. Selain menampilkan struktur pemerintahan kolonial, juga ditampilkan kiprah orang Eropa di timur. Salah satunya dapat dicermati dari koleksi daftar ikan di lautan Maluku susunan Rumphius, naturalis Jerman—yang buta dan nestapa—yang bekerja pada VOC. Juga jejak naturalis Alferd Russel Wallace, pencetus “Wallace Line” yang telah berkelana ke pulau-pulau Maluku.

Tiga kerangka ikan paus ukuran raksasa membuat saya seolah memasuki jagad antah-berantah. Kerangka empat ikan paus itu relatif utuh. Semuanya direkonstruksi sebagaimana aslinya oleh para ahli. Jika tadi kaget melihat meriam yang besar-panjang, kali ini saya takjub melihat kerangka paus yang hampir sebesar pesawat terbang!

Di halaman museum terdapat patung Kapitan Pattimura serba putih mengayun pedang. Saya berfoto sejenak, saat hendak kembali ke pusat kota.

Ambon yang Multi-Ikon

Gong Perdamaian, simbol perdamaian bagi pihak yang pernah bertikai di Maluku. FOTO: Raudal Tanjung Banua

Setiba di Lapangan Merdeka saya memutuskan turun dari mobil dan petugas yang mengantar saya persilahkan pergi.

“Nanti saya pulang sendiri ke penginapan,” kata saya. Dari sinilah saya mulai menjelajah ikon kota yang sebelumnya hanya sempat disaksikan sekilas.

Ambon termasuk banyak memiliki ikon. Wajar, mengingat kota ini memiliki sejarah panjang. Hari Jadi Ambon misalnya disepakati 7 September 1575, merujuk pembangunan Benteng Laha oleh Portugis dengan melibatkan rakyat Ambon. Ya, bisa dikatakan Ambon kota multi-ikon lantaran banyak tempat bersejarah maupun situs budaya merepresentasikan jejak dan jiwa kota. Termasuk situs yang baru dibangun ikut menyeruak sebagai simbol kota seperti Jembatan Merah-Putih. Nama yang secara sadar digunakan sebagai simbol persatuan dan kerukunan semua komponen yang ada di Ambon atau Maluku.

Ikon lama tetap eksis, seperti Lapangan Merdeka, semacam alun-alun bagi Kantor Gubernur Maluku. Lapangan bersejarah itu menjadi saksi bisu eksekusi mati Kapitan Pattimura setelah ia dan pasukannya berhasil menguasai Benteng Victoria. Sebagaimana riwayat perlawanan lainnya di tanah air, kemenangan Pattimura dapat dipatahkan tak lama kemudian dengan berbagai cara khas kolonial.

Tak jauh dari Lapangan Merdeka, terdapat Benteng Victoria, bekas markas besar Belanda. Benteng ini didirikan Portugis dengan nama Benteng Laha atau Ferangi. Tapi tahun 1605, VOC merebutnya dan diubah jadi Benteng Victoria (Kemenangan). Kebesaran riwayat benteng hanya dapat saya bayangkan dari luar. Untuk masuk harus ada izin khusus karena merupakan instalasi militer.

Tak apa. Melihat kekokohan dindingnya dari luar dan gerbangnya yang antik sudah cukup menimbulkan kesan mendalam. Saya melanjutkan perjalanan ke Gong Perdamaian, simbol perdamaian bagi pihak yang pernah bertikai di Maluku. Gong ditopang ratusan anak tangga, sebagai simbol perjuangan untuk sampai pada semesta suara yang menggemakan perdamaian dunia. Untuk diketahui, monumen yang diinisiasi masyarakat internasional ini tercatat satu di antara 35 buah di dunia, dan yang kedua di Indonesia—setelah Bali.

Persis di depan monumen itu, berkantor kawan lama saya waktu di Yogya. Namanya Insani Syahbarwati, orang Ambon yang jadi pimpinan redaksi televisi lokal. Saya sudah mengontaknya sejak dari Musem Siwalima. Maka pertemuan dengannya menjadi semacam reuni kecil yang menyenangkan. Bersama Insani saya kemudian berkeliling ke kawasan Tugu Trikora yang berhadapan dengan Gereja Silo—gereja tua dan bersejarah di Ambon. Saya bayangkan, menjelang Natal begini pastilah semarak dengan hiasan pohon natal dan kerlip cahaya seperti bintang-bintang…

Tugu Trikora dibangun untuk memperingati peristiwa perebutan Irain Barat, tampak sederhana dengan tiga bulatan tegak lurus setinggi 8 meter, berwarna putih. Sebuah bangunan tua dengan dinding yang melengkung lebar dengan puluhan jendela—difungsikan sebagai Rumah Kopi—menjadi latar dominan perempatan di sekitar Tugu Trikora.

Salah satu toko oleh-oleh khas Ambon. FOTO: Raudal Tanjung Banua

Masih bersama Insani, saya mencari oleh-oleh khas Ambon dari sagu dan pala di deretan toko Jalan Setiabudi. Toko-toko tua itu tak hanya menawarkan jenis makanan, juga barang kerajinan, kain tenun, minyak kayu putih, minyak cengkeh dan kalung mutiara. Yang paling mencolok adalah gitar yang digantung di atas etalase. Maklum gitar merupakan “senjata” wajib bagi orang Ambon dan sekitarnya.

Sebagaimana kreatifitas kaos di daerah lain, Ambon juga memiliki t-shirt kreatif berlebel Ambon. Tulisannya antara lain: I Ambon, Beta Molucca hingga Ambon Manise. Atau hal-hal berbau lokal yang tak sepenuhnya saya mengerti, misal Tikang Palangku, Kore Pica atau Sopi Mayang. Yang terakhir bisa saya duga itu sejenis minuman keras tradisional, sebab ada gambar bungbung bambu dan tulisan “anak-anak dan perempuan hamil jangan minum!”

Menutup jelajah singkat saya di Ambon—tapi meninggalkan kenangan panjang— saya mampir di warung Padang bertulisan “Sadaap” (baca: sedaap). Warung itu, sebagaimana lazimnya warung makan dan warung kopi di Ambon, full-music dengan speaker berdentum-dentum. Warung sebelah bahkan menampilkan live-music. Nah, sambil dibuai lagu-lagu Ambon yang aduhai, saya menikmati manisnya Ambon manise; benar-benar sadaap ee! **