Gencarkan Pesantrenpreneur, Angkat Potensi Penguatan Ekonomi

Ekonomi pesantren di era digital menjadi daya baru bagi pertumbuhan ekonomi menjelang tahun 2019. Tampak seminar pembuka di Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2018. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Ekonomi pesantren di era digital telah menjadi daya baru bagi pertumbuhan perekonomian negara menjelang tahun 2019. Dalam seminar pembuka pada Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2018, dilihat dari jumlah pesantren di Indonesia, hal itu memunculkan peluang membantu pemerintah dalam menahan krisis keuangan.

Di acara kali ini, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mengajak kawula muda muslim di Surabaya menjadi entrepreuner, demi membantu peningkatan ekonomi negara, Sabtu (15/12/2018).

“Kalau mau jadi kaya dan memberikan kontribusi untuk negara, jadilah pengusaha, bukan jadi pejabat,” kata Anggawira, Ketua Bidang Organisasi,  Kaderisasi dan Keanggotaan Hipmi saat memberikan penjelasan.

Berdasarkan data yang dihimpun Hipmi tahun 2014, jumlah pesantren di Indonesia sebanyak 28.081 pesantren, sekitar 80,5 peren di antaranya tersebar di seluruh provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten yang dibedakan berdasarkan Pondok Pesantren Mengaji sebanyak 15.057 (52 persen) dan Pondok Pesantren Modern sebanyak 13.904 lembaga (48 persen).

“Jumlah santri di Indonesia adalah sebanyak 4.028.660 santri. Terbanyak di Jawa Timur mencapai 1.036.747 (25,73 persen) dengan pondok pesantren modern terbanyak sebesar 4.677 (33,64 persen) lembaga,” lanjut Anggawira.

Menurut Anggawira, Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi kelas menengah yang tinggi setiap tahunnya. Dari data yang ia himpun,  Laju Pertumbuhan PDB (triwulanan) 2015-2018, tercatat pertumbuhan eknomi negara Indonesia mencapai 3,1 persen  di ASEAN. Sedangkan pertumbuhan ekonomi tertinggi tercatat Vietnam yakni 6,8 persen.

Saat ini, Indonesia menduduki peringkat ke-36 dalam Indeks Daya Saing Global tahun 2017-2018. Untuk itulah kekuatan dari ekonomi dan potensi keuangan syariah, diharapkan mampu menjadi motor laju pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan pula pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

“Menurut survei Hipmi, ada tiga jenis pengusaha. Yang pertama yaitu pengusaha by nasab, kedua by nasib, ketiga by design,” ungkap Anggawira.

Ia mengungkapkan yang dimaksud dari pengusaha by nasab yakni seseorang yang mewarisi usaha besar milik orang tuanya. Sedangkan by Nasib yakni orang-orang yang harus merayap dan kerja keras demi membangun usaha yang sukses. “Dan yang terakhir by design, yakni acara yang diselenggarakan pemerintah, seperti ISEF kali ini dan beberapa agenda lainnya,” katanya.

Survey Hipmi juga menunjukkan, sekitar 83 persen mahasiswa di seluruh Indonesia memilih menjadi karyawan setelah lulus. Hanya sedikit yang berminat menjadi pengusaha. Hal tersebut berimbas pada jumlah pengangguran terdidik di Indonesia yang semakin meningkat.

“Untuk itulah dengan potensi pondok pesantren yang luar biasa, diharapkan bisa membawakan nafas segar bagi perekonomian di Indonesia pada tahun 2019 mendatang,” tutup Anggawira. (DEWID WIRATAMA/AZT)

Editor: Aziz Tri P