Laporkan Progress Survei Desa di Jatim

BPS Beberkan Indikasi Peningkatan Desa Lewat IDP

Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono (kanan) saat memaparkan progress survei desa di Jatim dalam konferensi pers, Senin (10/12/2018). FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Laporan survei Potensi Desa (Podes) yang dipaparkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono menunjukkan, pada Mei 2018, terdapat 8.496 wilayah setingkat desa, 666 kecamatan dan 38 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Timur. Tercatat 7.721 desa dan 775 kelurahan.

“Indeks Pembangunan Desa (IDP) menunjukkan tingkat perkembangan desa dengan kategori mandiri, berkembang dan tertinggal,” ungkap Teguh Pramono, Senin (10/12/2018), saat menggelar jumpa pers.

Teguh menambahkan, secara periodik survei umumnya dilakukan setahun atau dua tahun sebelum suatu sensus dilakukan. Pelaksanaan Podes sendiri dilakukan pada tahun 2011, 2014, dan 2018. Hasilnya menunjukkan di tahun 2011 terdapat 8.502, kemudian pada tahun 2014 angka masih sama, sedangkan di tahun 2018 mengalami penurunan jumlah.

Penurunan tersebut lantaran dua desa di Sumenep, dua desa di Sidoarjo yang tidak memenuhi salah satu dari tiga unsur syarat administrasi pemerintahan, yakni adanya wilayah, penduduk, dan penyelenggara pemerintahan. Sedangkan empat kelurahan di sekitar Surabaya bergabung dengan Pemkot Surabaya.

“Peningkatan desa dihitung pada wilayah administrasi setingkat desa yang berstatus pemerintahan desa. Indeks Pembangunan Desa (IDP) sendiri merupakan indeks komposit yang menggambarkan tingkat perkembangan desa pada suatu waktu. Pembangunan desa menunjukkan tingkat perkembangan desa dengan kategori mandiri, berkembang dan tertinggal,” ujar Teguh.

Desa Mandiri Meningkat

Terdapat lima dimensi dalam IDP, yaitu pelayanan dasar mencakup pendidikan dan kesehatan, yang pada tahun 2014 sebanyak 68,85 persen menjadi 68,89 persen pada tahun 2018. Kemudian kondisi infrastruktur di tahun 2018 ini sebanyak 55,11 persen dibandingkan tahun 2014 sebanyak 51,45 persen. Pada dimensi ketiga yakni sarana transportasi meningkat dari tahun 2014 sejumlah 75,93 persen menjadi 76,90 persen pada tahun 2018.

Bertambahnya presentasi juga terjadi pada bidang pelayanan umum seperti rumah sakit, ketersediaan fasilitas olahraga sebanyak 56,60 persen di tahun 2018 dibandingkan 2014 sebanyak 53,36 persen. Dan yang terakhir, penyelenggara pemerintah desa meningkat dari 72,80 persen menjadi 79,75 persen pada tahun 2018.

“Dari kelima indeks tersebut, bisa digolongkan apakah desa tersebut tergolong desa mandiri, desa berkembang, atau desa tertinggal,” katanya.

Data IDP pada tahun 2014 menunjukkan desa di Jawa Timur sebanyak 692 desa atau 8,96 persen tergolong desa mandiri, disusul dengan jumlah desa berkembang sebanyak 6.820 desa atau 88,35 persen dan untuk desa tertinggal yakni sebanyak 207 desa atau 2,68 persen.

Pada tahun 2018, desa mandiri saat ini bertambah jumlahnya menjadi 1.035 desa atau 13,41 persen, desa berkembang menjadi sebanyak 6.604 desa atau 85,56 persen. Khusus untuk desa tertinggal mengalami penurunan sebanyak 82 desa atau menjadi 1,04 persen. (DEWID WIRATAMA/AZT)

Editor: Aziz Tri P