Menperin: Fokus SDM, Tumbuhkan Wirausaha Baru Sektor Industri

Tumbuhnya wirausaha industri baru terus didorong kemenperin. Tampak Menperin Airlangga Hartarto pada Rakernas Hipmi Perguruan Tinggi (PT) tahun 2018, di Jakarta, Sabtu (08/12/2018). FOTO: KEMEPERIN.GO.ID

JAKARTA-SUREPLUS: Tumbuhnya wirausaha industri baru terus didorong Kementerian Perindustrian (Kemenperin), karena dinilai ikut berperan penting menggerakkan roda perekonomian nasional. Hal itu perlu didukung perguruan tinggi dengan menggelar lokakarya kewirausahaan.

“Ini sejalan dengan program prioritas pemerintah pada tahun depan, fokus membangun sumber daya manusia (SDM) berkualitas secara masif,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mewakili Wakil Presiden pada Rakernas Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi (Rakernas Hipmi PT) Tahun 2018, di Jakarta, Sabtu (08/12/2018).

Dikutip dari situs kemenperin.go.id, Senin (10/12/2018), Menperin Airlangga menjelaskan, modal besar Indonesia menghadapi era revolusi industri 4.0, yaitu jumlah SDM. Terlebih lagi dengan adanya bonus demografi atau dominasi penduduk berusia produktif, yang potensinya dinikmati hingga tahun 2030.

“Berdasarkan pengalaman seperti Jepang, China Singapura dan Thailand, saat mereka mengalami bonus demografi, pertumbuhan ekonominya sangat tinggi. Maka kita perlu mengambil peluang itu melalui peran generasi muda atau generasi milenial yang akan menjadi leaders di 2030 nanti,” papar Airlangga.

Airlangga pun menargetkan pada Hipmi PT dapat mencetak wirausaha pemula dari para anggotanya sebanyak 1 juta orang. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan Indonesia sebesar 4 juta wirausaha baru untuk turut mendorong penguatan struktur ekonomi. Sebab, saat ini rasio wirausaha di dalam negeri masih sekitar 3,1 persen dari total populasi penduduk.

“Tolong dibuatkan short course atau workshop wirausaha di seluruh Indonesia. Buat target sampai satu juta orang. Kalau butuh fasilitasi, kasih tahu kami. Siapkan juga roadmap-nya,” kata Menperin.

Upaya ini sejalan dengan implementasi Making Indonesia 4.0, dengan aspirasi besarnya menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030.

Airlangga mengungkapkan, guna mencapai sasaran tersebut, Indonesia juga membutuhkan sebanyak 17 juta tenaga kerja yang melek teknologi digital. Ia merinci, 4,5 juta di antaranya adalah tenaga kerja sektor manufaktur dan 12,5 juta tenaga kerja di sektor jasa yang mendukung manufaktur.

“Apalagi, potensi era ekonomi digital akan meningkatkan nilai tambah terhadap PDB nasional sebesar 150 miliar dollar AS pada tahun 2025. Kesempatan ini yang perlu pula kita rebut,” tegasnya.

Inkubasi Pelaku Startup

Kemenperin telah memfasilitasi pembangunan gedung inkubasi bagi para pelaku usaha rintisan (startup) di beberapa wilayah di Indonesia, antara lain Bandung Techno Park, Bali Creative Industry Center (BCIC), Incubator Business Center di Semarang, Makassar Technopark, dan Pusat Desain Ponsel di Batam. “Tempat ini bisa dimanfaatkan secara gratis untuk semua yang ingin berinovasi,” katanya.

Selain itu, Kemenperin menggagas pembuatan platform e-commerce untuk pelaku industri kecil dan menengah (IKM), yang bertajuk e-Smart IKM. Ini sebagai salah satu upaya strategis pemerintah guna membangun sistem database IKM yang diintegrasikan melalui beberapa marketplace yang sudah ada di Indonesia agar lebih memperluas panga pasarnya terutama untuk menembus ekspor.

Sejak diluncurkan pada Januari 2017, peserta yang telah mengikuti e-Smart IKM lebih dari 4.925 pelaku usaha dengan total omzet sudah melampaui Rp 1,3 miliar. Kemenperin pun terus memacu tumbuhnya unicorn, pelaku startup yang memiliki nilai valuasi di atas 1 miliar dolar AS. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P