Workshop ‘Yukata’ Jadi Daya Tarik Tersendiri Bagi Mahasiswa Surabaya

Tani Miwako mengenalkan busana Yukata dari Jepang yang dibawakan pada acara workshop “Pemakaian Baju Tradisional Jepang Yukata”, Rabu (5/12/2018). FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Kebudayaan Jepang, khususnya dalam busana yang menjadi kegemaran masyarakat telah teraplikasikan di Surabaya. Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) bersama lima sekolah untuk workshop ‘Pemakaian Baju Tradisional Jepang Yukata’. Kelima sekolah yakni SMA Dr. Soetomo, SMK Dr. Soetomo, SMA 17 Agustus 1945, SMK 17 Agustus 1945, dan SMA Barunawati Surabaya.

Cicilia Tantri Suryawati, selaku Dekan Fakultas Sastra Unitomo mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu pembelajaran bagi para mahasiswa agar lebih mengenal mengenai kebudayaan Jepang dan sinergi antar negara akan selalu terjalin.

“Kami sering mangadakan kegiatan budaya, tapi mahasiswa sastra Jepang belum bisa menggunakan yukata karena bingung cara memakainya. Jadi, ini sebagai salah satu pembelajaran budaya agar mahasiswa dapat mengetahui salah satu budaya jepang, terutama pakaian tradisional Yukata,” jelas Tantri saat dijumpai di Unitomo Surabaya, Rabu, (5/12/2018).

Kegiatan yang diikuti puluhan siswa SMA/SMK ini menghadirkan perwakilan dari Jepang,  Tani Miwako, istri dari Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya. Miwako mengutarakan jika pakaian tradisional Yukata ini biasanya dikenakan pada saat menghadiri festival di musim panas. “Masyarakat Jepang menggunakan pakaian Yukata pada saat festival di musim panas. Hal itu karena Yukata ini terbuat dari bahan katun,” ucapnya.

Andini Dwi, salah satu siswa yang mengikuti kegiatan ini mengungkapkan ekspresi senang yang bercampur bangga, karena ia bisa belajar mengenai kebudayaan Jepang dan bertemu dengan Miwako. “Ini pertama kalinya saya ikut kegiatan seperti ini. Saya jadi tau kebudayaan Jepang itu seperti apa, terus tau bedanya Kimono sama Yukata itu apa, jadi sangat bermanfaat,” ujar Emil.

Tantri berharap agar para siswa kedepannya bisa lebih mengenal kebudayaan Jepang. “Jadi selain belajar bahasa, mahasiswa juga bisa mengenal budayanya,” pungkas Tantri.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana