Standing Water Detector, Cara Hemat Devisa Negara dengan Teknologi Lokal

Ir, Moh Alwi, menjelaskan sistematika kerja rancangan software Standing Water Detector di gedung rektorat ITS, Rabu (5/12/2018). FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Inovasi Standing Water Detection, yang diperkenalkan oleh ITS dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Perhubungan, dihadirkan dalam Forum Group Discussion (FGD) yang diadakan di gedung rektorat ITS dengan mengusung tema “Pengembangan Prototype Wind Shear dan Standing Water Detector dalam Upaya Peningkatan Keselematan Penerbangan”.

Teknologi buatan negeri ini diharapkan mampu menjawab penghematan devisa negara lantaran sering membeli produk luar negeri dalam hal safety flight. Sementara itu, berdasarkan data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tahun 2016, penyebab kecelakaan pesawat udara tertinggi disebabkan karena landasan pacu excursion (40,09%). Landas pacu excursion adalah peristiwa tergelincirnya pesawat akibat terjadinya hidroplaning.

“Kita tahu ketentuan IQ, maksimum genangan air di landasan pacu hanya 3mm, karena kalau lewat dari itu, sangat berisiko tergelincirnya pesawat,” ujar Sugihardjo, Kepala Litbang Perhubungan, Rabu (5/12/2018).

Menurut Sugihardjo, ada beberapa pesawat sampai overshoot, karena tidak mampu melakukan pengereman pada jarak yang seharusnya, lantaran juga karena kondisi standing water menimbulkan aquaplaning dan menghambat proses pengereman. Ia juga mengklaim, informasi tersebut belum pernah ada di bandara Indonesia. Untuk negara yang memiliki empat musim, informasi tersebut ada sehingga pilot bisa menentukan langkah apa yang harus diambil.

Kepala Litbang Perhubungan tersebut menyebutkan, salah satu kendala dalam dunia penerbangan yakni faktor alam. Kondisi bandara untuk take off dan wind shear merupakan hal yang sangat krusial, dan apabila bisa dikembangkan sendiri, tidak akan ada lagi ketergantungan produk luar negeri. Ia mencontohkan, saat ini alat yang digunakan untuk standing water yang terpasang di bandara Heathrow, Automatic Detector Foreign Object Debris (FOD) yang harganya sangatlah mahal.

“Pengembangan prototype peralatan yang kita lakukan tersebut juga turut berkontribusi dalam meningkatkan persentase Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang cukup signifikan,” tutup Sugihardjo.

Kendati demikian, terkait rancangan Software Standing Water Detector ini sendiri merupakan sebuah perangkat lunak yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Software Visual Studio. Perangkat ini digunakan untuk menampilkan pengukuran level air pada masing-masing sensor, dan ditampilkan dalam interface yang menunjukkan warna merah pada titik pengukuran saat landas pacu berbahaya untuk dilewati.

“Bukan hanya informasi pada pilot. Semisal waktu ada genangan air, informasi diteruskan dari sensor ke ATC, lalu dari ATC memberikan info kepada pilot soal gambaran titik-titik lokasi yang tergenang diatas 3mm, titik tersebut akan berwarna merah yang artinya berbahaya, antara 3 sampai 2 itu kuning yang berarti warning, dibawah 1mm itu putih yang menandakan masih aman,” ungkap Ir. Moh Alwi, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara.

Alwi menambahkan, sistem detector memberikan sinyal pada ATC menggunakan sistem wireless dengan jarak 5000 meter. Dari hasil uji fungsional yang dilaksanakan di Trunojoyo, Sumenep, prototype yang duji di lapangan sebanyak emapt sensor yang terpasang dua di masing-masing sisi runaway. Pengiriman data dari sensor dibagi menjadi dua bagian, yakni pengiriman dari Sensor ke Box Sensor menggunakan kabel NYYHY. Dan yang satu lagi pengiriman dari Box Sensor ke Simulator menggunakan Antena frekuensi Radio.

Dari hasil tersebut, sensor dapat dioperasikan dengan baik. Hal itu ditunjukkan dari jarak hasil pengukuran pada suhu, tekanan dan kelembapan tersebut sensor masih dapat bekerja secara linear. “Jadi alat ini adalah presentif action terhadap safety flight yang akan lebih disempurnakan lagi bersama ITS nantinya,” tutup Alwi.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana