Sambal Waraso Kreasi Suwarso, Andalkan Rasa Klotok dan Rasa Teri

Puluhan toples sambal buatan Suwarso tertata rapi di dapur sebelum dibawa ke acara gelar produk unggulan. FOTO: DOK. PRIBADI/SUWARSO

BANGKALAN-SUREPLUS: Berbekal pengalaman sebagai juru masak restoran, tanpa disadari Suwarso telah mewarnai khasanah kuliner Indonesia. Aneka jenis sambal dengan label Waraso tercipta dari tangannya. Tentu dengan cita rasa dan sensasi pedas yang berbeda.

Kehadiran sambal di meja makan, warung atau restoran seolah sudah menjadi unsur yang wajib tersedia. Lidah orang Indonesia memang tak bisa dilepaskan dari rasa pedas. Kurang pas rasanya saat makan tanpa ada sambal.

“Warna merah menggoda pada sambal didapat dari lumatan cabai  hingga mengeluarkan kandungan sarinya. Sedangkan sensasi pedas yang terasa di lidah menjadi pemicu selera makan,” kata Suwarso kepada Sureplus.id, Rabu (05/12/2018).

Aneka sambal buatan Suwarso tampak tertata rapi disalah satu stan saat acara gelar produk unggulan yang digagas Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Bangkalan. Acara yang diadakan 30 November hingga 2 Desember 2018 tersebut bertempat di depan Kantor Pendopo Agung Bangkalan, Madura. Gelaran ini menampilkan aneka macam produk yang tergolong dalam usaha kecil menengah (UKM).

“Di acara inilah pertama kali sambal saya dijual di depan pengunjung. Usaha ini memang baru berjalan dua bulan. Pemasarannya kebanyakan lewat tangan orang lain. Orang tersebut membawa sambal saya ke tempat kerja. Ada juga yang membeli langsung lalu dijual kembali ke toko,” terang Suwarso.     

Ada enam jenis sambal Waraso yang ditawarkan. Masing-masing adalah sambal klotok, sambal labu, sambal teri, sambal suriname, sambal pelangi, serta sambal terong. Keenam jenis sambal tersebut dikemas dalam toples kecil.  

Menurut Suwarso, ada tiga jenis sambal buatannya yang juga cocok dinikmati bukan dengan dengan nasi. “Sambal labu dan sambal terong lebih enak dinikmati dengan roti. Sambal pelangi akan lebih pas kalau dinikmati dengan bakso china atau bakwan china. Semua jenis sambal itu saya buat sendiri,” lanjut ia.

Tanpa Bahan Pengawet

Sambal kemasan buatan Suwarso tanpa bahan pengawet. Jika berbahan dasar ikan, akan bertahan hingga satu bulan dalam lemari pendingin. Namun jika berbahan dasar buah hanya mampu bertahan lebih dari seminggu dalam lemari pendingin. Faktor inilah yang membuatnya lebih memilih untuk berproduksi manakala ada pesanan. Harga eceran per toples sambal Waraso dibandrol Rp.20.000. Jika pembelian diatas 10 toples, Suwarso berani mematok harga miring, yakni Rp.15.000. Kedua harga tersebut berlaku untuk semua jenis rasa.

Sambal klotok dan sambal teri tergolong yang paling sering dipesan. Selain karena daya tahannya lebih lama, rasa pedasnya yang membuat ketagihan, juga lebih dikenal di pasaran. Pemasaran kedua jenis sambal ini bahkan telah sampai ke Pamekasan, Surabaya, dan Tangerang.   

“Sebenarnya ini usaha sampingan atau menyalurkan hobi saja. Saya justru berniat ingin membuka cafe yang lokasinya telah ada dan tak jauh dari rumah. Jika memang sambal ini bisa mendatangkan keuntungan secara nominal, tidak ada salahnya saya seriusi,” pungkas pria yang rumahnya beralamat di Jalan Raya Demangan, Desa Kamal, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Madura. (AGUS HIDAYAT/AZT)

Editor: Aziz Tri P