Pudot Sluuurp, Puding Susu Sedot Kreasi Aida yang kian Diminati

Meski baru tiga bulan berproduksi, Puding susu sedot (Pudot) Sluuurp tiga varian rasa buatan Aida Oktafiani tak pernah sepi permintaan. FOTO: DOK. PRIBADI/ AIDA OKTAFIANI

BANGKALAN-SUREPLUS: Jika bukan karena perhatian seorang ibu pada sang anak yang jadi penyebab, mungkin Aida Oktafiani (22) tak terpikir membuat puding susu sedot (Pudot). Dari sekedar coba-coba, lambat laun pesanan pun datang dengan sendirinya.

Menurut Aida, usaha ini dilatarbelakangi saat dirinya mengetahui sang anak tak suka ketika diberi puding. Padahal jenis makanan ini tergolong enak, rasanya manis, mudah sekali dikunyah, serta cocok dikonsumsi anak-anak. “Saya kemudian mencari cara agar anak saya suka puding. Setelah saya campur dengan susu barulah timbul rasa suka,” kata Aida kepada Sureplus.id, Senin (03/12/2018).

Usaha pudot yang dirintis Aida bersama sang suami, Kam Hardiansah (30) ini baru berjalan tiga bulan. Namun jenis usaha yang proses pembuatannya tergolong mudah dan sederhana ini berpeluang jadi lumbung pendapatan. Selain membuat pudot, sehari-hari Aida mengabdikan diri sebagai guru tidak tetap (GTT) salah satu sekolah dasar di Bangkalan, Madura.

Tiga varian rasa yang ditawarkan oleh produk dengan nama Pudot Sluuurp adalah coklat, melon, dan strawberry. Ketiganya telah menggoda lidah mereka yang pernah merasakan. Rasa enak dan segar pudot buatan Aida telah tersebar meski wilayah pemasarannya belum luas.

“Rasa coklat yang pertama kali saya buat. Kemudian saya coba pasarkan lewat online. Respon yang saya terima katanya enak. Ada yang datang langsung kesini untuk membeli. Ada juga yang memesan lewat telpon. Sejak itu saya memberanikan diri membuat lebih banyak lagi,” ungkap Aida.

Tambahan dua rasa yang kini dihadirkan bukan semata-mata keinginan Aida, melainkan karena permintaan konsumen. Ini menandakan jika Pudot Sluuurp telah disukai. Mereka menginginkan rasa dan selera yang berbeda. Aida pun menangkap sinyal jika permintaan konsumen adalah peluang untuk lebih memperluas pemasaran, sekaligus menambah pendapatan. Jika memang banyak permintaan rasa baru, Aida mengaku tak ragu untuk membuatnya.

“Pudot tiga rasa dikemas dalam botol plastik ukuran 250 ml, dijual dengan harga Rp 5.000 per botol. Selain lewat online, juga saya pasarkan lewat kantin sekolah. Harga untuk pelajar lebih murah, yakni Rp 4.000. Produk ini juga tersedia di salah satu rumah makan di Bangkalan. Juga sering ditampilkan di acara pameran ataupun gelar produk,” jelas Aida.

Setiap kali produksi, Aida membutuhkan empat bungkus bahan agar-agar serta enam kaleng susu kental ukuran 500 gram. Dari takaran serta pengolahan kedua bahan tersebut akan dihasilkan 50 botol hingga 60 botol pudot yang langsung mengisi lemari pendingin dan siap jual.

“Oleh karena tanpa bahan pengawet, pudot akan tahan hingga satu minggu dalam lemari pendingin. Jika diletakkan di dalam rumah tahan hingga dua hari. Namun jika di luar ruangan yang bisa terkena sinar matahari hanya bertahan sehari,” pungkas Aida yang tinggal di Jalan Pelabuhan Lebak RT 04 RW 10, Kelurahan Pangeranan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Madura.

Untuk menikmati pudot memang diperlukan sedotan. Selain bisa berlama-lama dinikmati sambil bersantai, letak puding ada di bagian bawah. Dengan sekali sedot, perpaduan rasa puding serta susu seketika terasa manis sekaligus segar di lidah. (AGUS HIDAYAT/AZT)

Editor: Aziz Tri P