Mendag: Ekspor Oktober 2018 Capai 15,80 Miliar Dolar AS

Kinerja ekspor pada Oktober 2018 tercatat 15,80 miliar dolar AS atau meningkat 5,9 persen, dibandingkan bulan sebelumnya (MoM). Tampak ilustrasi aktivitas ekspor impor di Surabaya. FOTO: SUREPLUS/DOK.

JAKARTA-SUREPLUS: Menguatnya ekspor memunculkan peluang untuk memperbaiki kinerja neraca perdagangan. Ini karena kinerja ekspor pada bulan Oktober 2018 tercatat sebesar 15,80 miliar dolar AS atau meningkat 5,9 persen, dibandingkan nilai ekspor pada bulan sebelumnya (MoM).

Peningkatan ini terdiri dari ekspor non-migas sebesar 14,3 milliar dolar AS atau naik 5 persen dan ekspor migas sebesar 1,48 miliar dolar AS atau naik 15,2 persen.

Secara kumulatif, ekspor selama Januari hingga Oktober 2018 mencapai 150,88 miliar dolar AS atau naik 8,8 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan nilai ekspor tersebut didukung ekspor migas sebesar 9,9 persen dan non-migas sebesar 8,7 persen.

“Penguatan kinerja ekspor ini menjadi peluang memperbaiki kinerja neraca perdagangan,” kata Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita, seperti dikutip sureplus.id dari situs kemendag.go.id, Senin (03/12/2018).

Mendag Enggar mengungkapkan, kenaikan ekspor non-migas periode Januari hingga Oktober 2018 didorong oleh meningkatnya ekspor pertambangan sebesar 27,5 persen dan produk industri sebesar 5,7 persen, meskipun ekspor pertanian turun 8,5 persen.

Barang tambang yang memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan ekspor adalah batubara (HS 27) dan bijih, kerak, dan abu logam (HS 26). Ekspor batu bara naik sebesar 19,6 persen dipengaruhi oleh kenaikan volume dan harga ekspornya. Sementara ekspor bijih, kerak dan abu logam naik 69,4 persen karena volume ekspornya melonjak 249,6 persen.

Sedangkan produk industri yang berperan pada tercapainya target ekspor non-migas antara lain besi dan baja (HS 72) naik 91,7 persen, berbagai produk kimia (HS 38) naik 32,2 persen, kertas dan karton naik 20,6 persen, bubur kertas naik 23,5 persen, produk besi dan baja (HS 73) naik 26,6 persen, serta aluminium (HS 76) naik 45 persen.

Sementara itu, kinerja impor pada bulan Oktober 2018 naik sebesar 20,6 persen atau 17,62 miliar dolar AS dibanding bulan sebelumnya (MoM). Kenaikan ini terdiri dari impor non-migas 14,71 miliar dolar AS atau naik 19,4 persen dan impor migas 2,91 miliar dolar AS atau naik 27,0 persen.

Secara kumulatif, impor selama Januari—Oktober 2018 mencapai 156,39 miliar dolar AS atau naik 23,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didukung oleh kenaikan impor migas sebesar 27,7 persen dan non-migas sebesar 22,6 persen.

Perbaiki Neraca Perdagangan

Neraca perdagangan bulan Oktober 2018 mengalami defisit sebesar 1,82 milliar dolar AS terdiri dari defisit neraca perdagangan non-migas sebesar 393,2 juta dolar AS dan defisit neraca perdagangan migas sebesar 1,43 milliar dolar AS.

“Neraca perdagangan non-migas bulan Oktober 2018 mengalami defisit, merupakan tekanan bagi neraca perdagangan secara keseluruhan, dimana pada bulan sebelumnya mengalami surplus cukup tinggi sebesar 1,3 milliar dolar AS,” kata Mendag Enggar.

Lebih lanjut, Mendag mengungkapkan, neraca perdagangan migas bulan Oktober 2018 mengalami defisit yang semakin besar dari dbulan sebelumnya, yaitu dari 1,0 milliar dolar AS menjadi 1,4 milliar dolar AS. Secara kumulatif, neraca perdagangan selama Januari hingga Oktober 2018 mengalami defisit 5,5 milliar dolar AS. Terdiri dari surplus neraca perdagangan non-migas 5,2 milliar dolar AS dan defisit neraca perdagangan migas sebesar 10,7 milliar dolar AS.

“Tingginya defisit neraca perdagangan migas dipicu oleh tingginya permintaan impor hasil minyak, akibat kenaikan harga minyak dunia. Sementara itu, surplus perdagangan non-migas mengalami penurunan dari tahun sebelumnya akibat kenaikan impor bahan baku dan barang modal,” lanjut Mendag. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P